Ciri utama dari kata kerja tipe ini adalah pelaku dapat mengalami tindakan secara kognitif, emosional, maupun sensasional. Misalnya pada kata kerja “(me) naksir” dan “(men) jawab”.
- Arga menaksir harga motor bekas itu.
- Beliau menjawab pertanyaan dari warga sekitar.
Pada kedua contoh kalimat tersebut, maujud alias pelakunya tengah melakukan tindakan tersebut sekaligus mengalaminya secara langsung. Perlu diperhatikan bahwa pada tipe II ini, subjek yang melakukan tindakan dan yang mengalami itu tidak harus sama kok. Bisa juga merupakan 2 maujud alias pelaku yang berbeda. Coba simaklah contoh berikut ini!
- Pak RT tanya persoalan itu kepada kami.
Pada kalimat tersebut, “Pak RT” adalah pelaku; sementara “kami” adalah maujud yang mengalaminya. Contoh lain kata kerja pada tipe II ini yakni: bicara, kenal, ancam, bujuk, dan lainnya.
- Tipe III
Yakni kata kerja yang menyatakan adanya tindakan dan pemilikan. Pelaku pada verba tipe ini tentunya adalah maujud yang berupa nomina bercirikan makna, bernyawa, dan bertindak sebagai penggerak dari tindakan tersebut. Sementara itu, pemilik berupa nomina bercirikan makna sekaligus bernyawa. Perhatikan contoh kalimat dengan kata kerja “beli” dan “bantu” berikut ini!
- Reka beli keranjang dari Pak Fuad.
- Pemerintah bantu para warga sekitar.
Pada kedua contoh kalimat tersebut jelas bahwa Reka dan Pemerintah berperan sebagai pelaku; sementara Pak Fuad dan warga sekitar adalah pemiliknya. Dalam artian, Pak Fuad menjadi tidak memiliki benda tersebut lagi dan warga sekitar yang akan memperoleh kepemilikan itu. Contoh verba tipe III lainnya adalah bayar, sewa, minta, beri, pinjam, terima, dan lainnya.
- Tipe IV
Yakni kata kerja yang menyatakan adanya tindakan dan lokasi (tempat). Maksudnya, tindakan ini dinyatakan oleh verba yang sekaligus “menyarankan” adanya lokasi (dapat berupa tempat asal, tempat berada, dan tempat tujuan). Pelaku pada verba tipe ini berupa nomina yang bercirikan makna, bernyawa, dan mengalami tindakan itu sendiri. Sementara itu, lokasinya dapat berupa frasa preposisional. Contoh:
- Amel pergi ke sekolah.
- Beliau baru tiba dari Surakarta.
Pada kedua contoh tersebut, walaupun frasa “ke sekolah” dan “dari Surakarta” itu bersifat opsional, tetapi verba yang ada sama-sama “menyarankan” keharusan hadirnya pada frasa tersebut. Contoh lain dari kata kerja tipe ini adalah jatuh, taruh, terjun, lari, masuk, pulang, naik, dan lainnya.
- Tipe V
Yakni kata kerja yang menyatakan proses. Subjeknya tentu saja berupa nomina yang mengalami proses perubahan keadaan atau kondisi. Perhatikan contoh kalimat berikut!
- Kaca mobil itu pecah.
- Daun cengkeh itu layu.
Kedua kata kerja “pecah” dan “layu” tersebut sama-sama verba proses sebab, sehingga seolah dapat menjawab pertanyaan “Apa yang terjadi pada subjek?”. Contoh lain dari verba tipe V ini adalah: bubar, longsong, timbul, tenggelam, habis, muncul, bangkit, terang, dan lainnya.
- Tipe VI
Yakni verba yang menyatakan adanya proses-pengalaman. Subjeknya tentu saja berupa nomina bernyawa yang mengalami suatu proses perubahan dan dinyatakan melalui verba tersebut. Perhatikan contoh berikut!
- Ibu cemas akan keselamatan anak-anaknya.
- Rupanya, kau sudah bosan padaku.
Kedua contoh kalimat tersebut terutama pada verba “cemas” dan “bosan” menjadi verba proses pengalaman. Sementara “Ibu” dan “kau” adalah subjek yang mengalami verba tersebut. Contoh lain dari verba tipe VI adalah: harap, ragu, maklum, sangsi, was-was, bimbang, kaget, dan lainnya.
- Tipe VII
Yakni kata kerja yang menyatakan adanya proses benefaktif subjek pada sebuah kalimat. Sedikit trivia saja nih, proses benefaktif ini berkaitan dengan perbuatan alias verba yang dilakukan oleh orang lain. Sementara itu, subjek yang mengalaminya adalah nomina yang mengalami suatu proses atau kejadian memperoleh atau kehilangan (mengalami kerugian). Contoh:
- Argentina menang 2 – 0 atas Maroko.
- Dia kalah 3 juta rupiah.
Pada kedua contoh kalimat tersebut terutama verba “menang” dan “kalah” menjadi verba proses benefaktif. Sementara PSSI dan Dia menjadi maujud yang mengalami peristiwa yang dinyatakan oleh verba tersebut. Contoh verba tipe VII lainnya adalah memperoleh, memiliki, kehilangan, dapat, punya, dan lainnya.
- Tipe VIII
Yakni verba yang menyatakan proses-lokatif. Subjeknya tentu saja berupa nomina yang telah mengalami proses perubahan tempat (lokasi). Contohnya adalah sebagai berikut!
- Matahari terbit dari ufuk timur.
- Pesawat itu baru tiba dari Semarang.
Leksem “terbit” dan “tiba” menjadi verba proses-lokatif, sedangkan “pesawat” dan “matahari” menjadi maujud yang mengalami proses dari verba tersebut. Contoh lain dari verba tipe VIII ini adalah jatuh, maju, tenggelam, terbenam, berangkat, pergi, mundur, hanyut, turun, dan naik.
- Tipe IX
Yakni verba yang menyatakan adanya keadaan. Subjeknya tentu saja berupa nomina umum yang berada dalam keadaan atau kondisi yang dinyatakan oleh kata kerja tersebut. Contohnya!
- Sawah-sawah di situ mulai kering.
- Wajah mereka selalu cerah.
Pada kedua contoh kalimat tersebut, verba “kering” dan “cerah” menjadi verba keadaan; sementara “wajah mereka” dan “sawah-sawah” menjadi maujud yang mengalami verba tersebut. Contoh lain dari verba tipe ini adalah ramai, rusak, rajin, lekas, gemetar, diam, sengsara, setia, dan jelas.
- Tipe X
Yakni verba yang menyatakan keadaan pengalaman. Subjeknya tentu saja berupa nomina yang berada dalam keadaan kognisi, emosi, atau sensasional. Contohnya!
- Dia memang takut kepada orang itu.
- Kami tahu hidup di kota memang sulit.
Verba “takut” dan “tahu” ini tentu saja menjadi verba keadaan pengalaman. Contoh lain dari verba tipe X ini adalah berani, ingat, mual, setuju, jengkel, gugup, cemas, iri, malu, dan lainnya.
- Tipe XI
Yakni verba yang menyatakan adanya keadaan benefaktif. Sementara itu, subjeknya adalah berupa nomina yang menyatakan memiliki, memperoleh, atau kehilangan sesuatu. Contohnya!
- Ia sudah punya suami.
- Dia ada uang empat juta rupiah.
Pada kedua contoh kalimat tersebut, verba “punya” dan “ada” menjadi verba keadaan benefaktif. Contoh verba lainnya pada tipe XI ini adalah kehilangan, beruntung, berwarna, memiliki, dan berhasil.
- Tipe XII
Yakni verba yang menyatakan keadaan-lokatif. Subjeknya tentu saja berupa nomina yang berada dalam suatu tempat atau lokasi. Contohnya!
- Petani itu diam di gubuk sana.
- Pak menteri hadir di acara itu.
Pada kedua contoh kalimat tersebut, kata “diam” dan “hadir” menjadi verba keadaan-lokatif. Sementara “petani” dan “Pak menteri” menjadi subjek yang mengalaminya di tempat yang disebutkan pada unsur keterangan. Contoh verba lain dari tipe XII ini adalah mengalir, berganti, berhenti, berserakan, bermimpi, dan menanjak.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






