Dia juga menyinggung percepatan pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Batang Anai.
“Kita tidak boleh melihat ini sebagai urusan politik. Ini soal kemanusiaan yang harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Andre mengajak mahasiswa menjadi mitra kritis pemerintah dalam mengawal pembangunan.
“Kampus adalah tempat intelektual. Kritiklah dengan data dan fakta. Kami tidak antikritik,” katanya.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa KM Unand Shabbarin Syakur menegaskan kritik mahasiswa disusun berdasarkan kajian lapangan.
“Suara yang kami bawa di BEM Unand ini bukan suara hasil karangan di atas meja. Kami punya tim kajian yang turun langsung mendengar keluhan di bawah,” kata Syakur.
Dia menilai implementasi program MBG masih perlu evaluasi agar sesuai dengan kebutuhan daerah.
“Kami sepakat stunting harus ditekan. Namun implementasinya masih terkesan terburu-buru dan top-down. Ini yang kami sebut perlu evaluasi total,” ujarnya.
Sejumlah dosen yang menjadi panelis juga menilai ruang dialog antara mahasiswa dan pembuat kebijakan seperti ini penting untuk menjaga tradisi intelektual kampus. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






