Para santri di Kampung Santri Agam dibiasakan untuk fasih membaca Quran. (Foto: Ist.)


Feature

Kampung Santri di Agam, Benteng Generasi Muda Menghadapi Pengaruh Budaya Luar

PADANG (SumbarFokus)

Lawang merupakan salah satu nagari yang terdapat di Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar). Di nagari tersebut , ada sebuah lokasi di perbukitan hijau yang acap diselimut awan. Itulah dia lokasi yang terkenal dengan nama Puncak Lawang. Bila singgah ke lokasi ini, kita akan berdecak kagum memandang panorama alam yang indah dan memesona.

Kawasan Puncak Lawang juga terkenal sebagai tempat take off olahraga paralayang. Di sini juga sering dijadikan tempat perlombaan paralayang tingkat nasional maupun internasional. Inilah yang membuat ratusan ribu wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara mampir ke lokasi tersebut setiap tahunnya.

Sekitar dua kilometer dari Puncak Lawang, ada ada sebuah perkampungan bernuansa religius. Kampung Santri namanya, terletak di Jorong Gajah Mati Nagari Lawang Kecamatan Matur Kabupaten Agam. Disebut Kampung Santri, karena saat berada di sana, atmosfer pesantren kental terasa. Di sore hari, tampak ramai anak- anak belajar membaca Quran di pondok-pondok bambu.


Inisiator sekaligus Ketua pengurus Kampung Santri Sevenday Khatib Mentari, bertutur kepada SumbarFokus mengenai sejarah berdirinya Kampung Santri. Disebutkan, keberadaan Kampung Santri terjadi bukan kebetulan. Area ini sengaja diciptakan untuk mengantisipasi pengaruh budaya luar. Ketakutan akan pudarnya kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma lama yang berlaku karena masuknya budaya asing, memunculkan ide untuk membentengi generasi muda agar tidak terpengaruh akan budaya luar.

“Perkampungan ini kita buat dengan dukungan penuh Pemerintahan Nagari, tokoh masyarakat, dan ulama. Maklumlah, daerah Kita ini daerah tujuan wisata. Kalau tidak kita bentengi, maka generasi muda akan terpengaruh budaya luar,” sebut Seven pada SumbarFokus, Minggu (28/4/2019).

Teks: Gerbang Kampung Santri di Jorong gajah Mati Nagari Lawang Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar). (Foto: Anizur)

 

Saat ini, kawasan perkampungan tersebut berada di area mulai dari satu kilometer dari gerbang. Dikatakan Seven, ke depannya, area akan diperluas sampai ke titik Puncak Lawang.

Dijelaskan, awal berdiri tahun 2001 silam, Kampung Santri bermula dari sebuah Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyaah (MDTA) Tarbiyah, sampai 2017. Mulai awal 2017, metoda pendidikannya ditingkatkan menjadi kegiatan multidimensi, merangkup semua kegiatan yang bersifat islami yang tidak meninggalkan budaya lokal. Santrinya berasal dari anak-anak warga jorong setempat, Mereka diajarkan Tilawatil Quran atau Tarannum Al-Quran, Tahsinul Quran, dan Taqdis. Mereka juga dilatih berpidato dan memberikan khutbah jumat.

“Bahkan kita juga menyelingi dengan belajar seni budaya silat dan olah raga seperti bulutangkis, tenis meja, dan futsal setiap sore,” ujar Seven.

Anak-anak didiknya, sebut Seven, sudah banyak yang berhasil menghafal hampir tiga juz.

Alhamdulilah, anak didik Kita sudah ada yang berprestasi, seperti juara Lomba Khutbah Jumat tingkat Kabupaten dan Lomba Baca Puisi untuk tingkat Sumbar,” ungkapnya.

Saat ini, anak didik Kampung Santri mencapai 127 orang dari tingkat SD, 27 orang dari tingkat SMP, dan 20 orang dari tingat SMA. Sementara, dari perguruan tinggi ada sepuluh orang.

Teks: Ketua pengurus Kampung Santri Jorong Gajah Mati Nagari Lawang Kecamatan Matur Sevenday Khatib Mentari, foto bersama Wali Nagari Lawang Jamal Dt. Lelo Ameh, Ketua KAN Lawang E. Dt. Rajo Endah, dan Wali Jorong Ketaping Nagari Lawang Dt. Bandaro Sati. (Foto: Anizur)

 

Untuk mengerakan kegiatan Kampung Santri, dana diperoleh dari sumbangan masyarakat setempat dan para perantau. Berdiri kampung santri ini sangat di sokong oleh pemerintahan nagari lawang dan masyarakatnya.

“Kami tidak memungut iuran kepada anak didik. Para pengajar dengan sukarela mengajar tanpa dibayar,” ujar Seven lagi.

Ditemui SumbarFokus, Wali Nagari Lawang Kecamatan Matur Jamal Dt. Lelo Ameh, didampingi Ketua KAN Lawang E. Dt. Rajo Endah mengakui, suatu kebanggaan bagi nagari Lawang akan keberadaan Kampung Santri ini, dan kini telah menjadi gerakan seluruh elemen masyarakat di Lawang, yakni gerakan membentengi anak kemenakan dari pengaruh budaya luar.

Disebutkannya lagi, kesadaran warga yang begitu besar akan agama menjadikan lingkungan Kampung Santri sesuai seperti yang diinginkan, bisa terbilang sukses. Di area ini, terlihat bangunan pondok-pondok tempat santri belajar, yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Tidak itu saja, terlihat juga banyaknya putra-putri masyarakatnya belajar di kampung santri tersebut.

“Masyarakat disini memiliki kelebihan yang luar biasa. Mereka bersama-sama membangun Kampung Santri ini karena mereka ingin anak- kemenakan mereka mempunyai  ilmu agama dan adat istiadat yang kuat,” ujar Dt. Lelo Ameh.

Diharapkan, Kampung Santri di Nagari Lawang ini kelak bisa menjadi contoh nagari yang agama dan adat istiadatnya tidak akan pernah lekang tergerus oleh jaman.

“Contohlah masyarakat Bali, mereka tidak pernah terpengaruh budaya luar sehingga Bali terkenal dengan adat budayanya yang mendunia. Kelestariaan adat tersebut kini menjadi keuntungan tersendiri sampai sekarang,” ujarnya lagi.

Disampaikannya, prestasi yang telah diraih nagari tersebut antara lain tahun 2015 Juara I Lomba Kompentensi Wali Nagari tingkat Propinsi Sumatera Barat dan tahun 2018 Juara I Lomba Kerapatan Adat Nagari tingkat Propinsi Sumatera Barat dan Masuk 6 besar dalam penilaian Didikan Subuh Berprestasi.

“Nagari Lawang banyak mengukir prestasi, apalagi Nagari Lawang ini ditetapkan sebagai Nagari Pemerintahan Adat, yang berarti nagari itu sudah dibina selama satu tahun sebagai pilot project Sumatera Barat,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Agam sangat mengapresiasikan keberadaan Kampung Santri tersebut. Bupati Agam Indra Catri sendiri, saat melakukan pemantauan langsung Pemilu 2019 baru-baru ini, menyempatkan diri singgah di sana dan memberi motivasi dengan reward diberikan pada santri disana.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Indra Catri memotivasi para santri. Bupati menegaskan bahwa memimpin itu untuk kini dan nanti, yang artinya kepemimpinan yang ada saat ini juga bertanggung jawab untuk kepemimpinan di masa yang akan datang.

"Ilmu tanpa iman akan mengasilkan penjahat yang cerdas. Iman tanpa ilmu akan menjadi hal yang luar biasa sia-sia," nasihat Bupati.

Menunjukkan dukungannya atas keberadaan Kampung Santri ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam berencana menghadirkan Bupati untuk hadir membuka acara Launching Kampung Santri disertai acara Khatam Quran dan Wisuda Tahfidz pada Selasa (30/4/2019).  (par-007)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




      agam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *