Robot berdimensi kecil rakitan tim Indonesia jadi juara dalam kontes Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat, 13-15 April 2019. (Foto: Ist.)


Nasional

Robot Pemadam Api dari Indonesia Menang Kontes Internasional

Robot Pemadam Api dari Indonesia Menang Kontes Internasional

 

JAKARTA (SumbarFokus)

 

Iklan Dalam Berita

Tiga mahasiswa program studi teknik elektro Universitas Muhammadiyah Malang mengharumkan nama Indonesia di kancah kompetisi robotik Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat, 13-15 April 2019, yang diikuti 37 negara di dunia.

Tak tanggung-tanggung, juara pertama diraih oleh tim yang terdiri dari Alfan Achmadillah Fauzi, Rohmansyah, dan Ken Dedes Maria Khunty, dalam kategori robot pemadam api berkaki. Selain menyabet juara pertama, robot rancangan tim ini juga berada di posisi juara kedua untuk kategori robot pemadam api beroda.

"Awalnya kami tidak mengira robot kami bisa meraih juara, karena pesaingnya cukup berat terutama dari China," ujar Fauzi, baru-baru ini.

Dipaparkan, yang menjadi keunggulan timnya sehingga bisa memenangkan kejuaraan bergengsi itu terletak pada dimensi robot yang kecil, sehingga manuver gerakan di setiap ruangan berjalan akurat. Jika dimensi robot itu besar maka robot akan mudah menabrak dinding ataupun rintangan yang ada di kontes tersebut.

Fauzi menambahkan, yang dinilai dalam ajang robotik ini tidak hanya bagaimana robot berhasil memadamkan api, tetapi juga bagaimana robot melalui rintangan yang ada di kompetisi itu. Pada kejuaraan itu, tim dari Indonesia itu menggunakan robot berkaki dan beroda.

Fauzi dan timnya belajar banyak dari kompetisi robotik yang diikutinya di dalam negeri. Pada saat itu robot yang dipunyainya mempunyai dimensi besar sehingga sulit gerak dan timnya gagal menjadi juara pertama. Sejak itu, ia berusaha membuat robot sekecil mungkin.

Tiga orang mahasiswa membanggakan ini membutuhkan waktu empat bulan untuk merancang robot yang mereka perlombakan. Rancangan terdiri dari desain bentuk dan mematangkan desain sebelum dieksekusi.

Kekurangan yang terdapat pada robot diperbaiki, ditambahkan sensor yang dibutuhkan dan tahap akhir masuk pada tahapan algoritma dan gerak robot. Ia dan timnya juga belajar banyak mengenai arti pentingnya kolaborasi.

"Yang paling susah itu di gas karena mencari valve untuk komponen robot dan yang kedua algoritmanya juga susah sekali, karena kita ikut kompetisi di dua kategori. Alhamdulillah kita berhasil meraih juara," jelas Fauzi.

Ketertarikan Fauzi dengan robot, bukanlah dari sejak lama. Ia baru menyukai robot sejak semester satu. Awalnya ia tertarik dengan mesin, namun karena biaya risetnya yang mahal ia terpaksa banting setir mendalami robot yang pada akhirnya mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan nasional dan internasional.

Sementara satu-satunya perempuan dalam tim, Ken, mengaku sejak duduk di bangku SMK sudah menyenangi mekanika. Menurut Ken, ikut serta mengerjakan robot itu susah-susah gampang karena harus mencari kekurangan dari desain yang sudah ada lalu diperbaiki.

Sedangkan Rohman, mengatakaan kunci utama dalam pembuatan robot adalah hardware-nya. Ia, Ken dan Fauzi melakukan riset mengenai komponen apa yang dibutuhkan untuk menghasilkan robot yang memilki akurasi tinggi dalam memadamkan api.

"Jadi dalam kejuaraan itu, robot disuruh melakukan pemetaan di mana apinya berada. Acuan kita suhu ruangan, kalau suhunya berbeda berarti di situ ada api. Nah acuan api itu, sinar inframerah. Robot mencari api menggunakan sensor itu dan sensor yang mengarahkan robot ke titik itu," jelas Rohman.

Semua robot, baik kategori berkaki atau beroda memiliki misi memadamkan api dengan cepat di titik pada satu ruangan yang menyerupai rumah.
Pada tahun sebelumnya, 2018, mereka berhasil meraih juara satu kontes robot Indonesia kategori regional dan nasional. Pada 2017, mereka juga berhasil meraih juara dua kontes robot tingkat nasional.

Diminta tanggapan mengenai kemenangan tim Indonesia ini, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Prof Ismunandar menyatakan sangat berbangga. Dia juga mengatakan saat ini Indonesia membutuhkan perguruan tinggi yang bermutu untuk menghasilkan lulusan yang berdaya saing dalam menghadapai era persaingan global.

Untuk itu, perguruan tinggi harus membuat terobosan dalam membuka program studi yang dibutuhkan. Tidak hanya fokus pada kegiatan akademik tetapi juga aktivitas lain di luar kegiatan belajar.

Indonesia disebutnya akan menjadi negara keempat terbesar di dunia dalam bidang ekonomi pada tahun 2050. Oleh karena itu harus didukung dengan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia yang dicetak melalui perguruan tinggi.

"Prestasi tim robotik Indonesia ini sangat membanggakan. kami akan memberikan penghargaan kepada mereka yang termasuk ke dalam SDM yang memiliki daya saing tinggi," kata Ismunandar.

Penghargaan itu akan diberikan kepada tim robotik UMM tersebut pada perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei.

Terpisah, ditanya mengenai kunci keberhasilan mahasiswanya meraih juara,
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UMM, Sidik Sunaryo mengungkapkan bahwa tidak hanya fokus pada akademik tetapi juga aktivitas di luar kampus memberi masukan positif bagi para mahasiswa.

"Bagi kami tidak ada yang lebih penting, kurikuler, ko-kurikuler, ekstra-kurikuler semuanya penting," kata Sidik. (001)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *