PADANG (SumbarFokus)
Bank Indonesia memetakan ruang pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada 2026 masih terbuka, meskipun tekanan perlambatan ekonomi dan dampak bencana hidrometeorologi menjadi tantangan utama. Pertumbuhan ekonomi 2026 dinilai berpotensi lebih baik dibandingkan 2025, dengan catatan pemulihan pascabencana berjalan efektif dan sumber-sumber pertumbuhan baru dapat dioptimalkan.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram dalam kegiatan Dialog Ekonomi Sumatera Barat bertajuk “Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumatera Barat 2026” yang digelar di Padang, Senin (19/1/2026).
Majid menjelaskan, secara struktural, perekonomian Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan melambat.
“Kita harus mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi sumbar pascapandemi COVID-19 termasuk kategori under, di bawah nasional. Nasional bisa bertahan di 5 persen. Kita ini mulai terjebak pada pertumbuhan yang agak rendah. Pada 2022, tri wulan 2, memang sempat unggul. Tapi overall, selama empat tahun terakhir kita hanya bisa tumbuh di angka 4 persen,” ungkap Majid.
Ditekankan, kondisi ini menjadi catatan penting. Tanpa penguatan dan perluasan sumber pertumbuhan, risiko pertumbuhan rendah bisa berlanjut.
Bank Indonesia mencatat, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi rumah tangga, penurunan aktivitas perdagangan, serta melambatnya sektor konstruksi seiring kebijakan efisiensi belanja pemerintah daerah. Penurunan belanja modal berdampak langsung terhadap kinerja sektor konstruksi dan industri terkait.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






