Dari Ambang Lelang ke Asa Baru: Memeluk Kembali Villa Idaman Lewat Jalan Tengah BTN

TRANSFORMASI ASET: Perbandingan kondisi rumah di Komplek Perumahan Villa Idaman, Padang, yang berhasil dipulihkan oleh Jef Elva Rony. Sisi kiri menunjukkan kondisi terbengkalai yang terekam kamera Google Street View pada Agustus 2022 saat masa sulit kredit macet. Sisi kanan adalah kondisi setelah direnovasi dan siap jual setelah memperoleh solusi keringanan dari BTN. (Foto: Tangkapan Layar Google Street View & Dok. Pribadi)

Oleh: Raihan Al Karim

Ketegangan menyelimuti ruang tamu kediaman kerabat Jef di kawasan Lubuk Lintah, Padang, pada suatu siang di penghujung Mei 2025. Dari ujung telepon di perantauan Aceh, Jef Elva Rony (53) menyimak laporan saudara kandungnya yang tengah berhadapan dengan seorang tamu tak diundang.

Bacaan Lainnya

Tamu tersebut menawarkan jasa pengurusan penyelesaian kredit macet. Dengan nada meyakinkan, ia membuka data yang membuat nyali ciut: utang KPR Jef di Bank Tabungan Negara (BTN) tercatat macet total sejak awal pandemi Covid-19 melanda. Akumulasi pokok, bunga, dan denda mencapai angka fantastis: Rp96 juta.

​”Kalau dihitung normal, segini tagihannya. Karena sudah lama macet, sesuai aturan, rumah di Komplek Villa Idaman ini sudah masuk radar lelang bank,” ujar pria itu, seperti ditirukan oleh Jef.

Keluarga terdiam. Di tengah kepanikan, pihak keluarga lantas menceritakan kondisi Jef yang sebenarnya. Mereka membuka fakta bahwa Jef di Aceh sedang berada di titik nadir, hancur lebur baik secara psikologis maupun finansial setelah dihantam rentetan musibah panjang.

​Mendengar penjelasan mendalam mengenai kondisi Jef tersebut, tamu itu mengangguk pelan. Memanfaatkan momen itu, ia kemudian menyodorkan sebuah solusi jalan tengah.

​”Saya paham kondisinya. Karena Bapak ada itikad baik, saya bisa bantu agar dapat diskon. Cukup bayar pelunasan sekitar Rp67 juta saja,” tawarnya persuasif, sebagaimana dikenang Jef.

Tawaran itu menggoda di tengah keputusasaan. Namun, naluri keluarga berkata lain. Muncul keraguan logis: Bukankah lebih bijak memvalidasi angka tersebut langsung ke sumber utamanya—Kantor BTN—sebelum mengambil keputusan besar?

Berbekal prinsip kehati-hatian, keluarga menunda kesepakatan dengan pihak ketiga itu. Mereka memilih mendatangi langsung Kantor Cabang BTN Padang. Keputusan sederhana untuk “cek ombak” sendiri itu kelak terbukti menyelamatkan uang Jef sebesar Rp15,7 juta—sebuah angka yang sangat berharga bagi Jef untuk menata kembali hidupnya pasca-tragedi.

​Dari Juragan Rental hingga Tragedi Mei Kelabu

​Kondisi “berdarah-darah” yang dialami Jef bukanlah tanpa sebab. Mundur ke satu dekade silam, ia adalah potret nasabah prima. Sebuah toko P&D (barang harian) serta usaha rental mobil yang ia rintis bahu-membahu bersama sang adik sejak 2005 di Padang sedang jaya-jayanya.

Sebuah rumah tipe 36 plus dengan luas tanah 135 meter persegi di Komplek Perumahan Villa Idaman, Sungai Sapih, Kuranji, Kota Padang—tak jauh dari RSUD Rasidin—ia pinang melalui produk non-subsidi KPR BTN Platinum. Akad kredit pun diteken pada awal 2013 dengan tenor 10 tahun. Kala itu, Jef tanpa ragu menggelontorkan uang muka Rp80 juta tunai.

​”Dulu, dunia rasanya dalam genggaman. Bayar cicilan sambil memejamkan mata pun sanggup,” kenang Jef melalui sambungan telepon dari tempat perantauannya di Aceh, Minggu (25/1/2026).

Saat itu, dengan angsuran sekitar Rp1,7 juta per bulan, Jef tak pernah merasa terbebani. Usaha rental dan toko hariannya mampu menutup cicilan rumah, kendaraan, sekaligus kebutuhan keluarga.

​Namun, roda nasib mulai berputar lambat di awal 2019. Persaingan bisnis rental mobil di Padang kian ketat, membuat omzet tergerus. Tak ingin menyerah, pada Juni 2019, Jef memboyong istri dan dua anaknya merantau ke Aceh. Ia membuka warung makan kecil-kecilan untuk menopang cicilan rumah dan mobil yang saat itu masih lancar.

Malang tak dapat ditolak. Belum genap setahun merintis asa baru, badai pandemi Covid-19 menghantam di awal 2020. Usaha rental di Padang mati suri. Sementara itu, warung makan di Aceh pun ikut terpukul hebat akibat berbagai kebijakan pembatasan sosial. Pendapatan terjun bebas hingga nyaris menyentuh titik nol. Akibatnya, tak ada lagi biaya untuk perawatan aset di Padang. Rumah di Villa Idaman pun terbengkalai dan perlahan ditelan semak belukar.

​Puncak keterpurukan terjadi pada 7 Mei 2023. Saat itu, Jef berniat pulang ke Padang. Selain ingin melepas rindu pada kampung halaman, kepulangannya kali ini membawa misi bahagia: menghadiri pesta pernikahan keponakannya.

Mengendarai mobil Kijang Innova, Jef membelah jalan lintas Sumatera membawa serta keluarga. Namun, di perbatasan Aceh Tamiang, kegembiraan itu berubah menjadi duka. Malam yang gelap gulita menyembunyikan bahaya. Sebuah truk tronton pengangkut cangkang sawit mogok di badan jalan tanpa penerangan yang memadai.

Akibat minimnya penerangan, keberadaan truk raksasa itu baru terlihat sepersekian detik sebelum benturan. Jef tak lagi punya ruang untuk menghindar. Innova itu ringsek berat menghantam bagian belakang truk.

Kecelakaan itu merenggut nyawa kakak kandung dari istri Jef. Sementara anak korban mengalami patah kaki serius. Jef sendiri, meski hanya mengalami luka ringan, terguncang hebat. Niat hati ingin berpesta, justru berakhir dengan air mata dan trauma mendalam.

​”Saya hancur lebur saat itu. Mobil hancur, keponakan patah kaki, dan kakak ipar meninggal dunia,” ujar Jef dengan suara bergetar.

Mobil Innova yang ringsek itu—aset roda empat satu-satunya milik Jef kala itu—akhirnya terjual seharga Rp80 juta. Namun, angka yang dulu setara dengan uang muka rumahnya tersebut, langsung terkuras habis untuk biaya penanganan pasca-musibah serta menutup lubang kebutuhan hidup selama masa pemulihan. Praktis, tak ada lagi sisa dana yang cukup untuk membayar tunggakan angsuran rumahnya.

Di masa-masa sulit itu, komunikasi dengan pihak bank sejatinya tetap terjalin. Ponsel Jef sesekali berdering menerima panggilan dari petugas penagihan. Jef tak pernah lari atau mematikan ponselnya. Setiap kali ditanya mengenai alasan keterlambatan, ia menjawab lugas apa adanya: usahanya hancur lebur dihantam pandemi dan rentetan musibah yang menimpanya.

Petugas di ujung telepon hanya mencatat, lalu percakapan usai. Selang beberapa bulan, panggilan serupa kembali masuk dengan pertanyaan yang sama. Jef pun tetap konsisten dengan jawaban jujurnya—bahwa niat untuk melunasi itu ada, namun kemampuan finansialnya yang sedang mati suri.

Negosiasi Alot di Meja Customer Service

Kembali ke momen ketegangan di akhir Mei 2025. Menyadari bahwa tawaran “tamu tak diundang” tadi mungkin bukan satu-satunya jalan, keluarga Jef memberanikan diri mendatangi Kantor Cabang BTN Padang. Ternyata, wajah bank pelat merah itu tak seseram bayangan. Namun, perjuangan belum usai. Terjadi negosiasi yang cukup alot.

​Pada tahap awal, setelah mengecek data, petugas menyodorkan angka pelunasan Rp62 juta. Angka ini sudah lebih murah dari tawaran pihak ketiga tadi (Rp67 juta), namun keluarga terus bernegosiasi mengingat kondisi Jef yang baru mulai bangkit dari nol.

​”Adik saya bercerita, saat itu dia memohon agar diberikan jalan keluar. Dia sampaikan kondisi saya sejujur-jujurnya, mulai dari rumah yang sudah seperti hutan, usaha yang mati, hingga dampak ekonomi pasca-kecelakaan. Intinya, keluarga meminta solusi paling akhir yang bisa diberikan bank,” tutur Jef, mengulang kembali laporan perjuangan adiknya di hadapan petugas.

Melihat itikad baik itu, pihak bank membuka pintu darurat. Ia menyodorkan formulir permohonan keringanan khusus (hardship). Syaratnya ketat: harus melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu dari kelurahan, Surat Keterangan Domisili, dan foto kondisi rumah terkini.

Foto itu menjadi bukti bisu. Rumah strategis di Villa Idaman itu telah berubah wujud. Rumput liar setinggi orang dewasa menutupi pagar, memvalidasi bahwa aset ini benar-benar tidak produktif. Bagi pihak bank, kondisi itu menjadi pertimbangan bahwa Jef adalah korban keadaan (force majeure), bukan semata kelalaian.

​Sihir Pesan WhatsApp Mbak Yuni

​Sekitar lima hari setelah berkas diserahkan, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel Jef. Pengirimnya Yuni, staf BTN KC Padang. Pesan singkat itu berisi deretan angka yang mengubah segalanya.

​”Assalamualaikum Pak. Selamat sore, saya Yuni BTN. Terkait permohonan diskon pelunasan atas nama Jef Elva Rony sudah disetujui pimpinan dengan nominal Rp51.318.623 Pak. Terima kasih”

Matematikanya jelas dan menohok:

  • ​Utang Awal (pokok + bunga + denda): Rp96.000.000
  • ​Tawaran Penyelesaian Pihak Ketiga: Rp67.000.000
  • ​Solusi Resmi BTN: Rp51.318.623

​Selisih Rp15,7 juta itu adalah bukti nyata efisiensi layanan bank. Bagi Jef yang sedang menata hidup, nominal tersebut jauh lebih berharga untuk modal usaha ketimbang harus habis untuk biaya jasa pengurusan.

​”Begitu baca WA dari Mbak Yuni, beban satu ton rasanya diangkat dari pundak saya. Ternyata mengurus sendiri itu murah, asal kita jujur,” ujar Jef lega.

Jabat Tangan dan Strategi ‘Asset Recycle’

​Awal Juli 2025, Jef pulang ke Padang untuk melunasi kewajibannya. Momen penyerahan sertifikat rumah berlangsung hangat di kantor BTN Padang. Tidak ada lagi ketegangan. Petugas BTN menyalami tangan Jef sembari mengucapkan selamat. Sertifikat rumah di Villa Idaman itu kemudian ditebus, direnovasi, dan tak lama kemudian terjual seharga Rp285 juta.

Hasil penjualan itu menjadi oase yang menyejukkan. Selain menutup modal tebusan ke bank dan biaya renovasi, dananya digunakan Jef untuk melunasi berbagai utang yang menumpuk selama masa sulit. Sisanya, barulah menjadi modal usaha bagi Jef untuk menata kembali hidupnya.

MEMELUK KEMBALI: Potret asri rumah Jef di Villa Idaman setelah diselamatkan dari status kredit macet. Berkat solusi humanis BTN, aset yang nyaris hilang ini berhasil “dipeluk kembali”, direnovasi, dan menjadi jembatan menuju asa baru bagi keluarganya. (Foto: Dok. Pribadi)

Langkah BTN memberikan diskon pelunasan (haircut) kepada Jef sejatinya bukan sekadar belas kasihan, melainkan bagian dari strategi besar korporasi dalam menjaga kualitas aset. Seperti diungkapkan Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, tekanan kredit macet (NPL) pasca-pandemi memang menjadi tantangan tersendiri.

​”Penyebab kenaikan NPL terutama dipengaruhi oleh penurunan kemampuan bayar sebagian debitur yang pernah direstrukturisasi saat pandemi Covid-19,” ujar Setiyo dalam analisis kinerjanya akhir Oktober 2025 lalu.

​Untuk mengatasi hal tersebut, Setiyo menegaskan bahwa BTN mempercepat proses Asset Recycle alias daur ulang aset. Tujuannya untuk mempercepat pemulihan dan mengoptimalkan kualitas aset yang macet. Kasus Jef adalah bukti nyata keberhasilan strategi ini: aset macet cair menjadi pendapatan (recovery income), dan nasabah terbebas dari jeratan utang.

Melayani Negeri, Menyelamatkan Mimpi

​Kisah Jef di Padang hanyalah satu titik kecil di tengah pencapaian raksasa Bank Tabungan Negara. Berdasarkan laporan kinerja Kuartal III-2025, total aset BTN tercatat telah menembus angka psikologis Rp510,85 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp2,3 triliun.

Namun, angka triliunan yang fantastis itu tidak membuat BTN kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Di balik neraca keuangan yang kokoh, komitmen bank pelat merah ini untuk “memanusiakan” nasabah yang tertimpa musibah terus berlanjut.

Teranyar, pada pertengahan Desember 2025, BTN kembali merilis kebijakan relaksasi kredit bagi 22.879 nasabah di Sumatera—termasuk di wilayah Jef tinggal, Aceh dan Padang—yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Nilai kredit yang diselamatkan mencapai Rp1,93 triliun.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bentuk kehadiran negara.

​”Kami ingin memastikan nasabah kredit konsumer terdampak tidak berjalan sendiri. Relaksasi kredit kami berikan secara terukur dan berbasis kondisi riil di lapangan kepada nasabah kredit konsumer. Kami ingin memastikan nasabah terdampak tidak kehilangan kesempatan untuk bangkit,” tegas Nixon.

​Dari Jef yang dihantam pandemi dan tragedi kecelakaan, hingga ribuan warga Sumatera yang diterjang banjir, BTN membuktikan satu hal: menjadi bank raksasa dengan aset ratusan triliun tidak lantas membuat mereka lupa caranya merangkul rakyat kecil. Selalu ada celah kemanusiaan bagi mereka yang jujur dan mau berusaha. (*)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait