PADANG (SumbarFokus)
Semen tidak lahir dalam satu tahap singkat. Ia hadir setelah melewati perjalanan panjang yang dimulai dari batuan alam hingga menjadi bubuk halus siap pakai. Proses ini menggabungkan teknologi, pengendalian mutu, dan perhitungan ilmiah yang ketat.
Tahapan awal dimulai dari penggilingan bahan baku. Batu kapur, silika, clay, pasir besi, serta material pendukung lainnya dihancurkan dan dicampur sesuai komposisi yang telah ditentukan. Setiap unsur harus berada dalam takaran tepat agar reaksi kimia berikutnya berjalan sempurna.
Campuran ini kemudian masuk ke tanur pembakaran bersuhu ekstrem, mencapai sekitar 1.450 derajat Celsius. Pada suhu inilah material mengalami perubahan struktur kimia dan fisik. Dari proses ini lahir klinker, butiran keras yang menjadi inti dari semen.
Klinker yang keluar dari tanur tidak langsung menjadi semen. Ia harus didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap penggilingan akhir. Pada tahap ini, material tambahan seperti gypsum, pozzolan, dan batu kapur berkualitas tinggi dimasukkan untuk membentuk karakter produk akhir.
Setiap tahapan diawasi dengan ketat. Mutu semen tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh kestabilan suhu tanur, ketepatan waktu pembakaran, dan kehalusan hasil gilingan.
Dalam perkembangannya, proses produksi semen juga mengalami perubahan seiring tuntutan lingkungan. Penggunaan pozzolan sebagai substitusi sebagian klinker menjadi bagian dari strategi menekan emisi karbon. Artinya, semen tidak hanya dikejar dari sisi kekuatan, tetapi juga dari sisi keberlanjutan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





