PADANG (SumbarFokus)
“Alun takilek alah takalam, nan jauah ditinjau, nan dakek ditaruko.”- sebelum masalah membesar, ia harus ditangani; yang jauh diperhitungkan, yang dekat dikelola dengan bijaksana.
Pepatah minang ini mengingatkan bahwa setiap persoalan harus diantisipasi sebelum membesar; yang jauh diperhitungkan, dan yang dekat dikelola dengan bijaksana. Semangat inilah yang menjadi dasar pelaksanaan pengendalian inflasi di Sumatera Barat. Sebab inflasi bukan hanya persoalan angka, tetapi fondasi ketenangan dan kualitas hidup masyarakat. Ketika harga stabil, daya beli terjaga, dan kepercayaan publik terhadap ekonomi ikut menguat.
Sebagai bagian dari mandat Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai rupiah, proses pengendalian inflasi dijalankan secara terstruktur melalui pemantauan harga harian, identifikasi potensi gejolak, koordinasi respons cepat bersama TPID, serta implementasi program stabilisasi pasokan dan harga. Januari hingga Agustus, seluruh langkah ini mampu menjaga inflasi tetap on target dalam rentang sasaran 2,5±1%, mencerminkan efektivitas pengendalian yang menitikberatkan pada stabilisasi harga pangan bergejolak (volatile food).
Namun, sejak memasuki periode cuaca ekstrem, tekanan inflasi mulai meningkat. Musim kemarau berkepanjangan sejak akhir Mei hingga Agustus menyebabkan penurunan produksi komoditas pangan, khususnya hortikultura yang sensitif terhadap iklim. Setelah laju inflasi mereda pada November 2025, Sumatera Barat kembali menghadapi tantangan yang berasal dari bencana hidrometeorologi.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






