Pada 24 Agustus 1944, sekitar 40 pesawat pembom Sekutu menyerang kawasan Indarung secara besar-besaran. Ratusan ton bom dijatuhkan. Pabrik rusak berat. Sedikitnya 19 buruh tewas di sebuah lubang perlindungan, sementara ratusan lainnya luka-luka.
Setelah itu, Jepang memaksa buruh membangun lebih banyak lubang perlindungan dan benteng pertahanan. Meriam-meriam penangkis serangan udara ditempatkan di sekitar kawasan pabrik dan Gadut.
Dalam konteks inilah dua meriam di Lapangan Golf Semen Padang diyakini ditempatkan sebagai bagian dari sistem pertahanan kawasan industri strategis Indarung.
Merawat Ingatan Sejarah
Tokoh masyarakat Indarung, Dharmansyah Siroen, menyebut dudukan beton meriam dibuat melalui kerja paksa masyarakat pribumi. “Sejak kawasan ini ditambang hingga menjadi lapangan golf, posisi meriam tidak pernah dipindahkan,” ujarnya.
PT Semen Padang memilih merawat, bukan menyingkirkan, peninggalan sejarah tersebut. “Kami memandang meriam ini sebagai bagian dari nilai sejarah yang patut dijaga,” kata Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan PT Semen Padang, Idris.
Kini Lapangan Golf PT Semen Padang bukan sekadar ruang olahraga dan rekreasi. Ia menjadi lanskap hijau yang menyimpan ingatan tentang perang, kerja paksa, dan perjalanan panjang sebuah industri.
Di sanalah dua meriam tua itu tetap berdiri—diam, berkarat, dan setia mengingatkan bahwa Indarung pernah menjadi bagian dari pusaran sejarah dunia. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





