PADANG (SumbarFokus)
Indonesia Creative Cities Network menilai perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia membutuhkan pembenahan sistem secara menyeluruh, mulai dari tata kelola hingga mekanisme penilaian karya.
Hal itu disampaikan menyikapi dinamika yang terjadi dalam proyek jasa kreatif, yang dinilai dapat menjadi momentum pembelajaran bagi seluruh pihak.
Ketua Umum ICCN Tb Fiki C Satari mengatakan, Indonesia saat ini tengah bergerak menuju ekonomi berbasis kreativitas. Namun, pendekatan yang digunakan dalam penilaian dan pengadaan masih mengacu pada sistem ekonomi berbasis barang dan konstruksi.
“Produk kreatif tidak hanya terdiri dari bahan dan alat, tetapi juga mengandung ide, kreativitas, proses kreatif, kekayaan intelektual, manajemen produksi, serta nilai karya yang tidak selalu dapat diukur dengan pendekatan biaya fisik semata,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan sektor kreatif dengan sistem yang mengaturnya. Karena itu, diperlukan kerangka kebijakan yang lebih adaptif, khususnya dalam pengadaan jasa kreatif oleh pemerintah, desa, maupun lembaga publik.
Selain itu, dia menilai penting adanya pedoman bersama yang dapat menjadi acuan bagi seluruh pihak, mulai dari pelaku kreatif hingga aparat penegak hukum.
“Jika Indonesia ingin menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung ekonomi masa depan, maka yang harus dibangun bukan hanya talenta dan industrinya, tetapi juga sistem, regulasi, dan tata kelola yang memahami karakter kerja kreatif,” tambahnya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






