PADANG (SumbarFokus)
Inflasi Provinsi Sumatera Barat pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,04 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,41 persen (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat M Abdul Majid Ikram, Kamis (2/4/2026), menyebut bahwa kondisi ini menunjukkan pengendalian harga selama Ramadan dan Idulfitri berjalan efektif.
Secara kumulatif, Sumatera Barat bahkan mencatat deflasi sebesar 0,82 persen (year to date/ytd) pada periode Januari–Maret 2026. Sementara inflasi tahunan berada di angka 3,37 persen (year on year/yoy), masih dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen.
Dia menjelaskan, tekanan inflasi pada Maret terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Kenaikan harga terjadi pada daging ayam ras sebesar 3,35 persen (mtm), jengkol 22,24 persen (mtm), dan ikan tongkol 8,94 persen (mtm), seiring meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan.
Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi turut mendorong inflasi, dengan kenaikan harga bensin sebesar 0,68 persen (mtm).
Namun, tekanan tersebut tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Cabai merah mengalami deflasi sebesar -11,12 persen (mtm), bawang merah -3,06 persen (mtm), dan beras -0,38 persen (mtm).
Penurunan juga terjadi pada emas perhiasan sebesar -5,91 persen (mtm) dan angkutan udara -9,92 persen (mtm), serta tomat sebesar -24,90 persen (mtm) seiring masa panen.
Secara wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,44 persen (mtm), disusul Kota Bukittinggi sebesar 0,16 persen (mtm). Sementara Kota Padang dan Kabupaten Pasaman Barat mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,02 persen (mtm) dan -0,05 persen (mtm).
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






