PASAMAN (SumbarFokus)
Bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung yang melanda Kabupaten Pasaman pada 24–26 November 2025 menimbulkan kerusakan dan kerugian besar. Total dampak bencana tersebut mencapai Rp586,52 miliar.
Pemerintah Kabupaten Pasaman pun mendorong dukungan dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam upaya pemulihan pascabencana melalui Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Hal tersebut disampaikan Bupati Pasaman Welly Suhery, dalam Rapat Koordinasi Sinergitas Dokumen R3P Sumatera Barat Tahun 2026 yang digelar di Padang, Kamis (8/1/2026).
“Bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung terjadi pada 24 hingga 26 November 2025 dan berdampak pada 11 dari 12 kecamatan di Kabupaten Pasaman,” ujar Welly Suhery, saat memaparkan kondisi daerah di hadapan jajaran BNPB.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri Sekretaris Utama BNPB Rustian, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi yang mewakili Gubernur Sumbar, Kepala Pelaksana BPBD Sumbar Era Sukma Munaf, serta sejumlah peserta rakor lainnya.
Bupati Welly menjelaskan, bencana tersebut menyebabkan 361 unit rumah terendam banjir. Selain itu, 31 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari enam unit rusak berat, empat rusak sedang, dan 21 rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai sektor penting, seperti infrastruktur jalan, jembatan, sumber daya air, serta fasilitas air bersih dan sanitasi. Di sektor ekonomi, bencana berdampak pada lahan persawahan dan kolam ikan masyarakat yang mengganggu aktivitas usaha serta mata pencaharian warga.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






