Khairani, yang sejak kecil mengalami gangguan penglihatan akibat penyumbatan saluran air mata sehingga menghambat perkembangan matanya, memilih jalur keagamaan. Ia ingin menjadi guru tahfidz dan mengajarkan Al-Qur’an braille. “Rani pengen jadi guru karena banyak teman dari Sumatera Barat bahkan di luar Sumbar yang nggak bisa baca Al-Qur’an braille,” cerita ibunya.
Kenangan saat Umroh pun membekas, ketika Khairani menunjukkan kemampuannya membaca Al-Qur’an braille di hadapan jamaah internasional. “Dia dipeluk dan dicium sama para laskar perempuan karena bisa membaca Al-Qur’an dengan huruf braille,” tambah sang ibu.
Dengan tekad itu, Khairani mantap memilih Universitas Negeri Padang sebagai pilihan pertamanya, tepatnya di Program Studi Pendidikan Agama Islam. Selain karena aksesibilitas yang disediakan, ia berharap bisa terus memperdalam ilmunya dan menjadi panutan bagi sesama penyandang disabilitas.
Koordinator Lapangan UTBK-SNBT UNP, Prof. Dr. Asrul Huda, S.Kom., M.Kom mengungkapkan bahwa kampusnya telah lama berkomitmen menyediakan akses bagi peserta disabilitas, terutama netra. “Setiap tahun kita siapkan fasilitas khusus. Tahun ini kami sediakan tujuh PC, meski hanya lima peserta yang hadir,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa UNP adalah satu-satunya perguruan tinggi di Sumatera Barat yang secara konsisten menyelenggarakan UTBK bagi peserta disabilitas. “Ini bagian dari komitmen kami sebagai kampus inklusi,” tambahnya. (000/)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






