Mata SePeLe: Saat Sepet, Perih, dan Lelah Mata Ternyata Ancaman Besar 

Ilustrasi. (Foto: SISCA O.S./SumbarFokus.com)

PADANG (SumbarFokus) 

Bagi Shiddiq (22), mata yang cepat lelah bukan sesuatu yang pernah ia anggap sebagai masalah.

Bacaan Lainnya

Sebagai penulis sekaligus peneliti muda, sebagian besar waktunya dihabiskan di depan layar. Membaca dokumen, mencatat temuan, menyusun tulisan, lalu berpindah ke layar ponsel. Kadang matanya terasa kering, sesekali perih, sering juga cepat lelah. Namun semua itu ia anggap wajar.

“Saya pikir itu cuma capek biasa. Namanya juga kerja depan layar,” sebut dia.

Tidak ada rasa sakit. Tidak ada mata merah yang mencolok. Tidak ada keluhan yang terasa darurat. Karena itu, ia tidak pernah benar-benar berhenti untuk bertanya: apakah matanya baik-baik saja?

Hari-hari berjalan seperti biasa, sampai Shiddiq mulai menyadari satu hal: keluhan itu tidak pernah benar-benar hilang. Mata terasa cepat lelah meski waktu bekerja belum lama. Fokus mudah buyar. Membaca lama-lama terasa melelahkan. Dari situlah ia mulai merasa, mungkin yang ia anggap biasa selama ini bukan sekadar kelelahan.

Pengalaman Shiddiq adalah gambaran dari apa yang dialami banyak orang, tanpa disadari.

Survei kuantitatif INSTO Dry Eyes terhadap 710 responden usia 15 tahun ke atas di wilayah Jabodetabek dan Bandung menunjukkan fakta yang jarang dibicarakan: 41 persen responden mengalami mata kering. Angka ini menjadi dasar bahwa empat dari sepuluh orang hidup dengan kondisi mata kering.

Yang lebih mengkhawatirkan, dari angka tersebut, terdapat 20 persen responden yang mengalami mata kering tetapi tidak menyadarinya. Mata terasa sepet, perih, dan lelah dianggap sebagai konsekuensi kurang tidur, terlalu lama menatap layar, atau sekadar kelelahan harian. Tidak pernah dianggap sebagai tanda gangguan kesehatan.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait