PADANG (SumbarFokus)
Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sumatera Barat pada Januari 2026 mengalami deflasi bulanan sebesar -1,15 persen (mtm). Angka ini lebih dalam dibanding wilayah terdampak bencana lain seperti Aceh dan Sumatera Utara, dan terdalam secara nasional.
Deflasi didorong membaiknya ketersediaan pasokan pangan serta kelancaran distribusi pascabencana. Perbaikan sarana transportasi dan kebijakan diskon tarif air minum turut menekan harga di tingkat konsumen.
“Deflasi yang dalam ini didukung oleh semakin membaiknya pasokan ditopang oleh respon aktif pemerintah untuk mengakselerasi recovery dampak bencana, di antaranya melalui perbaikan sarana transportasi/distribusi serta kebijakan diskon tarif PAM,” ungkap Deputi Kepala BI Sumbar Andy Setyo Biwado, melalui keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).
Pada kelompok pangan bergejolak, penurunan harga terutama terjadi pada cabai merah dan bawang merah seiring normalisasi produksi lokal serta masuknya pasokan dari Sumatera Utara dan Jawa.
Dari kelompok harga yang diatur pemerintah, diskon 50 persen tarif PAM di Kota Padang memberi andil deflasi -0,12 persen, sementara penurunan tarif angkutan antarkota 17,22 persen menyumbang deflasi 0,05 persen.
Di sisi lain, tekanan inflasi berasal dari kenaikan harga emas perhiasan dengan andil 0,13 persen, disusul tomat, beras, ikan nila, dan ikan asin teri.
Secara spasial, seluruh daerah IHK di Sumbar mengalami deflasi. Kabupaten Pasaman Barat mencatat deflasi terdalam -1,84 persen, diikuti Kota Padang -1,02 persen, Dharmasraya -0,92 persen, dan Bukittinggi -0,73 persen.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





