PADANG (SumbarFokus)
Di tengah dominasi film keluarga yang cenderung ringan, Pelangi di Mars hadir dengan tawaran yang tidak biasa. Film ini tidak sekadar menghibur, tetapi mencoba mengubah cara anak-anak Indonesia membayangkan masa depan mereka.
Film karya sutradara Upie Guava dan diproduseri Dendy Renando ini bercerita tentang Pelangi, seorang anak berusia 12 tahun yang menjadi manusia pertama yang lahir di Mars. Dia hidup dalam kesunyian, ditemani robot bernama Batik, setelah koloni manusia kembali ke Bumi dan meninggalkannya.
Kesendirian itu kemudian berubah menjadi petualangan besar ketika Pelangi memimpin sekelompok robot untuk mencari Zeolith Omega—mineral yang diyakini mampu menyelamatkan Bumi dari krisis air bersih. Dalam perjalanan itu, Batik, robot Indonesia, tampil sebagai sosok pemimpin yang mengoordinasikan robot-robot dari berbagai negara dalam satu misi yang sama.
Perjalanan mereka di Mars tidak mudah. Mereka harus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari lingkungan ekstrem hingga musuh yang menghadang. Namun dari situ justru terbangun kekompakan, kepercayaan, dan semangat kolaborasi lintas “bangsa”.
Hingga akhirnya, misi tersebut membawa mereka kembali ke Bumi, sekaligus mempertemukan Pelangi dengan ayahnya—sebuah momen emosional yang menjadi penutup perjalanan panjangnya.
Produser Dendy Renando mengatakan film ini telah digarap sejak lima tahun lalu dengan tujuan menghadirkan tontonan keluarga yang berbeda di Indonesia, khususnya dalam genre fiksi ilmiah.
“Science fiction itu kunci pembuka imajinasi anak-anak. Kita ingin anak-anak tidak hanya datang ke bioskop bersama orang tuanya, tapi membawa pulang imajinasi,” kata Dendy, dalam rangkaian roadshow film tersebut di Padang, Senin (23/3/2026).
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






