Menurut dia, selama ini literasi dan produksi film fiksi ilmiah di Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain. Karena itu, Pelangi di Mars diharapkan dapat menjadi pemantik bagi perkembangan genre tersebut.
Sutradara Upie Guava menambahkan, film ini memang sejak awal dirancang untuk tujuan yang lebih besar dari sekadar hiburan.
“Kami ingin mendesain ulang cita-cita anak Indonesia. Bangsa yang besar dibangun dari imajinasi anak-anaknya,” kata dia.
Untuk mewujudkan hal tersebut, tim produksi tidak hanya fokus pada cerita, tetapi juga mengembangkan teknologi film secara mandiri, termasuk pemanfaatan Extended Reality (XR).
Menurut Upie, proses ini menjadi tantangan tersendiri karena industri film Indonesia masih menghadapi keterbatasan dalam penguasaan teknologi, bahkan dibandingkan dengan negara tetangga.
“Kami membangun teknologi, menganalisis, dan berdiskusi dengan pelaku industri luar negeri. Film ini bukan hanya soal film, tapi bagian dari rencana besar, termasuk pendidikan dan pengembangan sci-fi di Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, kehadiran robot-robot dari berbagai negara dalam film ini juga menjadi simbol penting. Pelangi, melalui Batik, digambarkan mampu memimpin dan bekerja sama dalam lingkungan global.
Pesan tersebut, menurut Dendy, penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri generasi muda Indonesia dalam berinteraksi di tingkat internasional.
Film Pelangi di Mars tayang saat momen Lebaran 2026 dan tengah diperkenalkan melalui roadshow di sejumlah kota di Sumatra, termasuk Padang, Sumatera Barat, di Plaza Andalas XXI.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






