PADANG (SumbarFokus)
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) pada kuartal IV 2025 tercatat mengalami perlambatan. Secara kuartalan (q-to-q), pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 1,69 persen, sementara secara tahunan (year on year/yoy) berada di angka 3,37 persen. Capaian ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mampu tumbuh hingga 4,37 persen.
Meski melambat, kinerja tersebut dinilai masih menunjukkan sinyal positif dan tetap memberikan kontribusi strategis bagi perekonomian daerah.
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Barat Rony Nazra menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari sejumlah tantangan struktural, terutama keterbatasan fiskal daerah.
“Kecilnya pertumbuhan ini salah satunya disebabkan oleh kendala realokasi APBD, sehingga dana yang dikelola pemerintah daerah menjadi cukup terbatas. Di sisi lain, pendapatan daerah juga relatif kecil, padahal penggerak utama perekonomian Sumbar masih sangat bergantung pada belanja pemerintah daerah,” ujar Rony dalam Afternoon Tea bersama wartawan media Sumbar di Padang, Jumat (6/2/2026).
Selain faktor fiskal, kondisi eksternal juga turut memengaruhi kinerja ekonomi daerah. Menurut Rony, pada kuartal IV 2025 Sumatera Barat juga menghadapi musibah yang berdampak cukup signifikan terhadap aktivitas ekonomi.
“Musibah yang terjadi pada kuartal IV turut menekan laju pertumbuhan ekonomi sehingga penurunannya terasa cukup tajam,” katanya.
Di tengah perlambatan tersebut, sektor perbankan Sumatera Barat masih menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Hingga posisi Desember 2025, total aset perbankan di Sumbar tercatat sebesar Rp85,37 triliun, tumbuh 1,64 persen (yoy). Sementara, total penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp73,86 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 0,68 persen (yoy).
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.




