PADANG PARIAMAN (SumbarFokus)
Warga Katimaha, Nagari Asampulau, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, menyampaikan protes langsung kepada pelaku penambangan liar, pada Jumat (12/12/2025) siang. Aksi ini dipicu banjir besar yang kembali merendam permukiman dan memutus akses jalan warga.
Masyarakat menilai banjir yang terus berulang tidak hanya disebabkan curah hujan tinggi, tetapi diperparah oleh aktivitas penambangan kerikil dan pasir di kawasan hulu sungai. Penambangan tersebut diduga merusak kontur tanah dan vegetasi alami, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor.
Salah seorang warga, Buk Er, menyatakan kekecewaannya karena aktivitas tambang galian C ini masih berlangsung meski kondisi lingkungan sudah sangat mengkhawatirkan.
“Kami sudah lelah. Setiap hujan lebat, air langsung naik. Tanah sudah rusak karena tambang-tambang itu,” ujarnya.
Warga sepakat menghentikan langsung aktivitas penambangan dengan meminta alat berat dan kendaraan tambang keluar dari lokasi. Langkah ini diambil demi keselamatan warga dan untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Menurut warga, aksi penolakan ini bukan untuk memutus mata pencarian, melainkan demi keselamatan bersama. Jika penambangan tetap dilakukan, masyarakat meminta agar aktivitas tersebut diatur secara jelas dan sesuai aturan hukum.
Warga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera menertibkan tambang ilegal dan menindak tegas para pelaku. Pasalnya, banjir yang terus berulang telah mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, serta mengancam keselamatan masyarakat. (028)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





