Ancaman bukan hanya gempa, banjir dan longsor tapi juga dari letusan gunung. Letusan dan magmanya. Sisa apu kepundan Gunung Marapi di Sumbar misalnya, belum turun jutaan meter kubik. Obatnya sabodam dan deteksi di hulu.
Alat deteksi tsunami di laut hilang, dicuri. Alat deteksi letusan Gunung Marapi, dicuri juga. Dapat dipastikan, jika dipasang di hulu sungai akan hilang pula: jika dibiarkan. Orang maling itu memang suka mencuri, tugas aparatlah itu.
Untuk di perkampungan atau kota-kota yang terancam tsunami dan banjir, jika sudah terdeteksi, perlu sirine maraung panjang. Terdengar kemana-mana. Tapi, perlu pula disiapkan lokasi tempat lari. Juga evakuasi. Memang itulah risiko kita— rakyat dan pemerintah Indonesia, wilayah cincin api bencana. Supermarketnya ada di sini.
Dalam bahasa bijaknya, mari kita akrab dengan bencana. Tak bisa akrab-akrab saja, harus ada perkakas dan alat-alat pendukung yang lengkap.Tentu saja edukasi yang tak henti-henti, setelah itu baru akrab. Sama-sama kita, rakyat dan apalagi pemerintah.
Jangan seperti kawan saya, setiap banjir tiba, ia hendak menjual rumahnya, ketika sudah kering, dia lupa. Begitu setiap tahun sampai suatu ketika, banjir sampai di ujung atapnya. Sudah tak bisa lagi diselamatkan.
Catatan baik kita tentang banjir Sumatera, meski belum maksimal, pemerintah pusat dengan segenap perangkatnya terus bekerja tiga provinsi bencana. BUMN misalnya. BNPB sepertinya mati langkah karena anggarannya relatif kecil. Ke depan, BNPB mesti menjadi prioritas. Dan: warga bantu warga tanpa komando.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





