Aceh provinsi yang istinewa sejak 1959 itu, telah merobek kantong air mata, sejak 2004. Tsunami, menerjang, melumat negeri itu. Banjir menimpa Aceh Selatan, Pidie Raya, Nagan Raya dan Aceh Tenggara. Lalu Aceh Tenggara, Langsa, serta Aceh Tamiang dan cakupan yang luas, melebihi musibah tsunami.
Aceh paling parah dari dua provinsi lainnya, juga terbanyak warga meninggal dunia. Wilayah yang diterjang banjir dipastikan bagian dari Bukit Barisan, sebab hampir semua wilayah di sana terhubung ke banjaran
Sumatera Utara, banjir san longsor melanyau delapan kabupaten di sini. Tapanuli Tengah dan Selatan terparah. Kedua wilayah berada di sisi Barat, Bukit Barisan. Menjadi bagian dari Pantai Barat Sumatera. Punya topografi yang tidak datar, subur dan curah hujan ang tinggi.
Sumbar, seolah didesak oleh Bukit Barisan ke Pantai Barat, sehingga agak sempit. Di daerah yang sempit itu, banyak sungai yang bermuara ke Pantai Barat atau Samudera Indonesia. Sungai itu pendek-pendek saja. Airnya deras, batunya banyak dan tebingnya curam. Berbanding terbalik dengan sungai yang bermuara ke Pantai Timur Sumetara, misal Batang Hari dan Sungai Musi, panjang, santai dan berbelok-belok.
Pantai Barat dan Timur di Sumatera seperti saudara kembar yang punya gaya berbeda. Pola hidup penduduk yang tak sama. Barat lebih gampang melibat jajaran Bukit Barisan. Tapi, mereka selalu berkata, “ kami anak Sumatera.”
Masa depan
———————
Ini soal masa depan tiga provinsi yang dihempas nasib nan sama di ujung 2025. Setelah dibuatkan huntara, maka disusul huntap dan menata hidup kembali. Memulai dari nol. Membangun rumah tidaklah susah, tapi mendirikan rumah tangga di atas rumah itu, bukanlah pekerjaan gampang. Bagi mereka, keduanya sekarang sama susahnya. Namun, dapat dipastikan pertumbuhan ekonomi ketiga daerah itu, sesudah musibah, akan meningkat, karena banyak uang masuk.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





