Dengan luas lahan sawah sekitar 16.166 hektare, produksi padi Kabupaten Pasaman dalam dua tahun terakhir tercatat mencapai lebih dari 130 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Pada 2024, produktivitas rata-rata mencapai 4,4 ton per hektare, bahkan hasil pengukuran ubinan di sejumlah lokasi mampu mencapai 9 ton per hektare.
Meski memiliki potensi pertanian yang besar, menurut Welly, kesejahteraan petani masih menghadapi berbagai tantangan. Tingginya biaya produksi, keterbatasan sarana dan prasarana pertanian, persoalan irigasi, akses permodalan, hingga pemasaran hasil panen menjadi sejumlah persoalan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Dia menjelaskan, biaya pengolahan lahan dapat mencapai sekitar 30 hingga 35 persen dari total biaya produksi padi. Karena itu, Pemkab Pasaman menghadirkan Program Unggulan Bajak Sawah Gratis untuk membantu menekan biaya produksi yang selama ini menjadi beban petani.
Pada 2026, Kabupaten Pasaman memperoleh bantuan alat dan mesin pertanian dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan nilai total sekitar Rp7 miliar.
Bantuan tersebut terdiri atas enam unit traktor roda empat, dua unit traktor crawler, 30 unit traktor roda dua, 30 unit pompa air, serta 20 unit hand sprayer.
Bantuan alsintan ini diharapkan dapat mempercepat pengolahan lahan, mengurangi keterlambatan musim tanam akibat keterbatasan alat dan biaya, serta meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di Kabupaten Pasaman.
Untuk memastikan pemanfaatannya berjalan optimal, seluruh bantuan alsintan akan dikelola melalui Brigade Alsintan di bawah koordinasi Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman. Brigade ini akan memberikan layanan kepada petani di seluruh wilayah Kabupaten Pasaman sebagai bagian dari pelaksanaan Program Unggulan Bajak Sawah Gratis.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





