SUMATERA BARAT (SumbarFokus)
Satu keluarga di Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayutanam, Padang Pariaman masih diliputi duka setelah seorang ibu bernama Resmaini dan anak bungsunya, yang berkuliah di Bukittinggi, hilang sejak banjir bandang dan galodo melanda Sumatera Barat pada 27 November 2025.
Nofri Yolanda, anak sulung, dan ayahnya Syafril mengaku terakhir berkomunikasi dengan Resmaini pada pagi hari sebelum sang ibu pulang dari Bukittinggi, untuk membersihkan rumah yang terdampak banjir di Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman.
Syafrial, yang berada di perantauan, mencoba meyakinkan istrinya agar tidak pulang ke Anduriang, mengingat cuaca dan kerusakan di sepanjang jalur Lembah Anai.
Pukul 10.16 WIB, komunikasi masih tersambung lewat panggilan telpon. Namun, ketika dicoba dihubungi lagi pada pukul 11.00 WIB, ponsel Resmaini tak lagi aktif. Dugaan sementara, keduanya terseret arus saat melintasi kawasan Jembatan Kembar Padang Panjang.
Laporan kehilangan telah disampaikan ke pihak nagari oleh anak sulung korban, Nofri, dan pencarian terus dilakukan. Sedangkan, Syafrial langsung pulang ke Padang Pariaman dikarenakan tidak adanya kabar lanjutan terkait hilangnya anak dan istirinya.
Proses identifikasi melalui pemeriksaan DNA terhadap jenazah korban di RS Bhayangkara juga telah dua kali dilakukan, namun belum ada hasil yang cocok.
“Kami sangat berharap istri dan anak saya yang hilang sejak 27 November hingga hari ini, 11 Desember, masih dapat ditemukan dalam keadaan selamat,” ujarnya Syafril, ketika ditemui di rumahnya pada Kamis (11/12/2025).
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





