Ditegaskan, pemulihan UMKM tidak boleh berhenti pada kondisi sebelum bencana. Pelaku usaha harus didorong untuk naik kelas melalui peningkatan kualitas produk, kemasan, pengelolaan keuangan, digitalisasi pemasaran, perluasan pasar, jejaring kemitraan dan akses pembiayaan.
âBukan hanya sekadar pulih sebagaimana sebelumnya, tapi bagaimana UMKM kita ini bisa naik kelas. Lebih kuat, lebih adaptif, mampu memanfaatkan digitalisasi dalam pemasaran dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,â katanya.
Gubernur mengajak seluruh pelaku UMKM memanfaatkan program tersebut dengan sebaik-baiknya dan tidak berhenti berusaha meskipun menghadapi dampak bencana.
âJangan takut untuk memulai kembali. Dan jangan biarkan bencana menghentikan langkah-langkah kita,â pesannya.
Melalui dukungan pembiayaan, pelatihan, pendampingan dan penguatan akses pasar, program Klinik UMKM Minang Bangkit diharapkan mampu mempercepat pemulihan usaha terdampak bencana sekaligus mendorong UMKM Sumatera Barat menjadi lebih kuat, tangguh dan naik kelaskela
Sementara, Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza menjelaskan bahwa sekitar 38.000 UMKM di Sumbar menjadi sasaran bantuan dengan total alokasi sekitar Rp115 miliar. Bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung pemulihan usaha sekaligus pemberdayaan agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
âTujuannya bukan sekadar dana hibah yang bisa digunakan suka-suka. Tujuannya adalah untuk pemberdayaan dan pemulihan usaha,â ujar Helvi.
Selain bantuan, Kementerian UMKM mewajibkan adanya pelatihan dan pendampingan, termasuk literasi keuangan serta pencatatan transaksi melalui perbankan. Dengan demikian, perkembangan usaha pelaku UMKM dapat tercatat dan menjadi dasar untuk membuka peluang pembiayaan serta mendorong usaha naik kelas.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





