SURABAYA (SumbarFokus)
Malam baru saja turun di Kota Surabaya ketika Kereta Api Sembrani Luxury Class perlahan bergerak meninggalkan peron Stasiun Pasar Turi, Rabu (5/3/2026). Langit kota pahlawan tampak mendung, sementara suasana stasiun tetap hidup oleh lalu lalang penumpang yang bersiap menempuh perjalanan jauh.
“Kereta Api berangkat tepat waktu 20.15 WIB, selamat menikmati perjalanan,” ujar Kepala Stasiun Pasar Turi Rohman, saat melepas rombongan ekspedisi Punggung Jawa yang terdiri dari KaJe, Atjie, Maskot, dan Toaik.
Bagi para pecinta perjalanan rel, Pasar Turi bukan sekadar tempat naik dan turun kereta. Stasiun ini adalah salah satu simpul sejarah perkeretaapian di Indonesia.
Beroperasi sejak 1910, Stasiun Surabaya Pasar Turi telah menjadi bagian penting jalur kereta api pantai utara Jawa. Sejak awal berdirinya, stasiun ini menghubungkan kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, hingga Surabaya dalam jaringan rel yang membelah utara Pulau Jawa.
Pada masa kolonial, jalur kereta yang dibangun oleh Staatsspoorwegen itu bukan hanya mengangkut hasil bumi seperti gula dan tembakau, tetapi juga manusia, gagasan, dan perubahan zaman.
“Rel-rel baja membelah utara Jawa, bukan hanya mengangkut gula, tembakau, dan hasil bumi, tetapi juga ide, manusia, dan perubahan,” ujar Maskot dan Atjie, mengenang sejarah panjang jalur tersebut.
Kala itu, Surabaya sebagai kota pelabuhan yang sibuk menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa. Di peron Pasar Turi, percakapan dalam bahasa Belanda, Jawa, Melayu, hingga Tionghoa bercampur dalam riuh aktivitas perdagangan dan perjalanan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






