Setelah Indonesia merdeka pada 1945, rel kereta api tidak lagi sekadar jalur distribusi kolonial. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting bagi republik yang baru berdiri.
Kereta api kemudian dinasionalisasi, dan Pasar Turi tetap menjadi simpul penting transportasi di Jawa, kini berada dalam pengelolaan bangsa sendiri.
Memasuki era modern, wajah stasiun pun berubah. Lokomotif uap berganti dengan mesin diesel dan listrik, sementara tiket kertas kini digantikan sistem digital.
“Satu yang pasti, denyut dan getaran rel bajanya tidak pernah sunyi. Meski potret stasiun telah 180 derajat berubah, dari kesemrawutan kini sudah tertata apik dan rapi,” ujar Toaik.
Saat ini, Stasiun Pasar Turi melayani sekitar 50 perjalanan kereta api setiap hari. Jalur ini menjadi terminal penting bagi kereta lintas utara yang menghubungkan Surabaya dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Cirebon, dan Semarang.
Jika Stasiun Gubeng dikenal sebagai gerbang timur dan selatan Surabaya, maka Pasar Turi adalah nadi transportasi di bagian barat kota.
Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Rohman memastikan seluruh persiapan telah dilakukan.
“Untuk Lebaran 2026, InsyaaAllah Stasiun Surabaya Pasar Turi siap lahir batin menyambut arus mudik,” ujarnya.
Di tengah modernisasi transportasi, Pasar Turi tetap berdiri sebagai saksi perjalanan panjang negeri ini.
“Di sinilah pertemuan sejarah dan masa depan, tempat legenda kaum perindu dan perpisahan. Tempat harapan diberangkatkan dan cerita dipulangkan,” ujar KaJe.
Stasiun Pasar Turi bukan sekadar bangunan transportasi. Ia adalah panggung panjang perjalanan Indonesia yang terus bergerak, mengikuti derak roda baja di atas relnya. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






