Sementara itu, tingkat kemiskinan pada Maret 2026 tercatat 5,27 persen, dengan Indeks Gini sebesar 0,285.
Meski demikian, dia mengingatkan masih ada tantangan yang perlu ditangani bersama, terutama mendorong pertumbuhan ekonomi agar manfaatnya dirasakan lebih luas, memperkuat pemerataan pembangunan antarwilayah, serta meningkatkan kemandirian dan kapasitas fiskal daerah.
“Capaian hari ini bukan titik akhir. Capaian adalah pijakan untuk melangkah lebih jauh,” tegas Muhidi.
Gubernur Sumbar Mahyeldi, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sumbar tumbuh 4,54 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sedangkan pertumbuhan kumulatif semester I mencapai 4,77 persen. Pertumbuhan triwulan II tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 3,70 persen.
Dari sisi kesejahteraan, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 311,14 ribu orang atau 5,27 persen, turun dibandingkan September 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 juga menurun menjadi 5,51 persen, sementara jumlah penduduk bekerja mencapai 3,06 juta orang, meningkat sekitar 85,75 ribu orang dibandingkan Februari 2025. IPM Sumbar pada 2025 tercatat 77,27, naik dari 76,43 pada tahun sebelumnya.
“Kita terus berupaya membangun perekonomian Sumbar yang kuat, sehingga masyarakat dapat merasakan dampaknya dari pertumbuhan ekonomi tersebut,” ujar Mahyeldi.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





