Dia menegaskan, LPJK memiliki posisi strategis untuk menjembatani investasi global dengan kapasitas industri konstruksi nasional. Kemitraan, kata dia, perlu menghasilkan peningkatan kemampuan dan nilai tambah bagi Indonesia, bukan berhenti pada pembangunan aset fisik.
Insannul juga menyoroti kebutuhan industri konstruksi untuk mengikuti perkembangan teknologi, seperti kecerdasan buatan, machine learning, digital twin, building information modeling (BIM), dan komputasi awan.
“Perusahaan tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi harus naik kelas. Hubungan bilateral juga tidak berhenti pada Indonesia–China, melainkan berkembang menuju kolaborasi konstruksi ASEAN yang lebih kuat,” jelasnya.
Forum tersebut menjadi ruang bagi negara-negara ASEAN dan China untuk membahas pengembangan teknologi konstruksi, peningkatan kapasitas SDM, serta peluang kerja sama dalam pembangunan kota yang berkelanjutan. (000)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





