“Dalam penanganan ini, semua harus bergerak, berkolaborasi,” tegasnya
Gubernur Sumbar, Mahyeldi mengatakan normalisasi sungai menjadi salah satu prioritas penanganan yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Hal itu dinilai penting mengingat curah hujan di sejumlah wilayah Sumbar masih tinggi sehingga potensi bencana susulan perlu diantisipasi.
“Normalisasi sungai ini yang menjadi prioritas. Walaupun dari Balai juga sudah turun. Curah hujan masih tinggi, seperti yang terjadi di Agam dan Padang. Kalau ada curah hujan dengan intensitas tinggi dan panjang lagi, ini berpotensi akan terdampak,” ujar Mahyeldi.
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Sumbar telah menyurati seluruh bupati dan wali kota untuk melakukan penyusuran sungai di wilayah masing-masing. Penyusuran dilakukan untuk mengidentifikasi sekaligus membersihkan berbagai material yang berpotensi menghambat aliran air, seperti kayu tumbang maupun material lainnya.
Langkah tersebut akan dilaksanakan secara kolaboratif bersama pemerintah kabupaten/kota, Forkopimda, relawan, kelompok Siaga Bencana, dan komunitas pencinta alam. Pemprov Sumbar juga memperoleh dukungan BNPB berupa peralatan, termasuk chainsaw, untuk mendukung proses pembersihan di lapangan.
Kepala BNPB, Suharyanto memastikan pemerintah pusat akan terus mendampingi Pemprov Sumbar dan Pemkab Solok dalam penanganan bencana ini. Untuk satu warga yang masih dalam pencarian, operasi pencarian terus dilakukan hingga hari ketujuh sesuai ketentuan, dengan melibatkan Basarnas dan unsur terkait.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





