Memasuki 2026, kegiatan serupa kembali digelar pada lokasi tambahan NCH. Dari 10 daerah yang ditetapkan, pelaksanaannya ditargetkan berlangsung di delapan daerah dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Hingga kegiatan di Koto Tangah, agenda tersebut telah terlaksana di empat daerah sepanjang tahun ini.
Kegiatan dikemas dengan aktivitas yang bersentuhan langsung dengan budaya masyarakat. Di antaranya pameran koleksi Museum Adityawarman, workshop warisan budaya, pameran kuliner tradisional, pertunjukan seni dan budaya, pelatihan pasambahan kato, serta makan bajamba.
Fadhli mengatakan, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu fokus dalam setiap kegiatan. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan kesenian dan tradisi, tetapi juga diajak mengalami langsung proses serta nilai yang terkandung di dalamnya.
“Yang paling penting adalah bagaimana generasi muda ikut terlibat dan mendapatkan pengalaman langsung. Mereka tidak hanya melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang diwariskan, tetapi juga memahami nilai, praktik, dan kreativitas yang dapat dikembangkan dari budaya tersebut,” jelasnya.
Dinas Kebudayaan Sumbar berharap NCH dapat berkembang menjadi ruang yang mempertemukan pelestarian budaya, kreativitas masyarakat, dan keberlanjutan kegiatan di tingkat nagari. Dengan begitu, aktivitas kebudayaan diharapkan tetap berjalan dan berkembang setelah dukungan program pemerintah berakhir. (000/adpsb)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





