Oleh: SISCA OKTRI SANTI
Bagi sebagian besar petani di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, masa memasuki masa tanam bukanlah awal dari harapan. Masa ini merupakan ritual padat modal yang bisa mencekik urat nadi. Dalam satu siklus tanam, petani harus menyiapkan biaya hingga belasan juta per hektare, yang digunakan untuk menyewa traktor bajak sawah, membeli pupuk, membayar tenaga kerja selama proses budidaya, hingga upah buruh saat panen. Semua biaya itu harus ditanggung sebelum petani mengetahui berapa banyak gabah yang akan mereka bawa pulang sebagai hasil panen nanti.
Modal besar itu menjadi taruhan. Besarnya biaya yang dikeluarkan tak menjamin hasil panen memuaskan. Alih-alih memperoleh keuntungan, petani justru bisa terjerat labirin utang menahun yang tak kunjung usai. Betapa ironisnya!
Kondisi memprihatinkan ini pernah dialami oleh Darmini (72), Nafrizal (59), dan Dalwardi (56), para petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan. Kamis (8/10/2026) pagi itu, Darmini mengenang masa-masa ketika bertani selalu menuntut keberanian mempertaruhkan modal.
Uang harus dikeluarkan sejak awal dalam jumlah besar, sementara hasil panen baru diketahui berbulan-bulan kemudian. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, biaya yang telah dikeluarkan tak serta-merta bisa kembali, sedangkan kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Bagi Darmini, persoalan itu menjadi salah satu alasan yang membuat bertani dengan cara lama terasa berat.
Bahagianya, kini, perempuan sepuh itu menemukan cara berbeda melalui Sawah Pokok Murah (SPM). Dengan SPM, Darmini mampu menekan biaya produksi pertanian. Dengan metode pertanian yang digagas oleh Ir. Djoni tersebut, dirinya semakin sanggup menghadapi musim tanam dengan risiko modal yang lebih terkendali.
Pengalaman serupa dirasakan Nafrizal dan Dalwardi. Ketiganya menerapkan pendekatan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) dalam praktik SPM, yakni memanfaatkan jerami sebagai mulsa penutup tanah dan mengurangi kebutuhan pengolahan lahan secara konvensional. Perubahan ini bukan sekadar soal teknik bertani. Ini tentang bagaimana tetap menanam tanpa harus mempertaruhkan modal besar bagi setiap musim. Pengalaman mereka ternyata memperlihatkan potensi SPM dalam menekan biaya produksi.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





