Sementara itu, bawang merah mengalami inflasi 10,52 persen (mtm) akibat meningkatnya permintaan dari dalam dan luar daerah. Minyak goreng juga naik 4,75 persen (mtm) seiring kenaikan harga crude palm oil (CPO).
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi sejumlah komoditas pangan strategis. Cabai rawit tercatat turun -21,13 persen (mtm) dan cabai merah -13,55 persen (mtm) didukung peningkatan produksi lokal serta pasokan dari Sumatera Utara.
“Penurunan harga emas global juga mendorong deflasi emas perhiasan sebesar -2,92 persen (mtm), sementara daging ayam ras turun -2,93 persen (mtm) seiring membaiknya pasokan,” ujarnya.
Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,67 persen (mtm), sedangkan terendah di Kabupaten Pasaman Barat dengan deflasi -0,02 persen (mtm). Kota Padang dan Kota Bukittinggi masing-masing mencatat inflasi 0,51 persen (mtm).
Adapun inflasi tahunan tertinggi berada di Kabupaten Dharmasraya sebesar 3,44 persen (yoy), sementara wilayah lain masih di bawah 3 persen.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui berbagai langkah, di antaranya operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, kerja sama antar daerah, hingga penguatan ketahanan pangan berbasis kelompok tani.
Ke depan, BI memperkirakan inflasi Sumatera Barat tetap terkendali, meski tetap perlu mewaspadai risiko global, gangguan distribusi, cuaca ekstrem, hingga potensi tekanan nilai tukar.
“Sinergi TPID akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1 persen serta mendukung stabilitas perekonomian daerah,” tutupnya. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






