PADANG (SumbarFokus)
Inflasi tahunan Provinsi Sumatera Barat pada April 2026 tercatat tetap terkendali dan berada di bawah realisasi inflasi nasional. Bank Indonesia mencatat inflasi Sumbar sebesar 1,97 persen (yoy), lebih rendah dibanding inflasi nasional yang sebesar 2,42 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat M. Abdul Majid Ikram menyebut kondisi tersebut ditopang oleh penurunan inflasi kelompok barang bergejolak (volatile food/VF).
“Dengan kondisi ini, inflasi tahunan Sumbar tercatat sebesar 1,97 persen (yoy), di bawah realisasi nasional yang sebesar 2,42 persen (yoy),” ujarnya.
Secara kumulatif, inflasi Sumatera Barat periode Januari–April 2026 masih mencatat deflasi sebesar -0,43 persen (ytd). Dengan kondisi tersebut, inflasi sepanjang tahun 2026 diprakirakan tetap berada pada sasaran 2,5±1 persen (yoy).
Pada April 2026, inflasi bulanan Sumbar tercatat 0,39 persen (mtm), meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar 0,04 persen (mtm). Kenaikan ini dipengaruhi faktor musiman pasca Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri, kenaikan harga energi, serta transmisi kenaikan harga komoditas global.
Menurut Abdul Majid Ikram, sejumlah komoditas menjadi pendorong inflasi bulanan, di antaranya tarif angkutan udara, bawang merah, minyak goreng, jengkol, kentang, serta nasi dengan lauk.
“Inflasi angkutan udara tercatat 32,24 persen (mtm) didorong berakhirnya diskon tiket pesawat pada HBKN, kenaikan harga avtur dan fuel surcharge, serta penyesuaian tarif batas atas,” jelasnya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






