Dampak paparan juga tidak sama pada setiap orang. Anak-anak, lanjut usia, perokok, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronik termasuk kelompok yang lebih rentan. Begitu pula halnya dengan masyarakat dengan gangguan jantung yang dapat memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap perubahan kualitas udara.
“Pada paparan jangka pendek, kondisi udara yang kurang baik dapat menimbulkan keluhan,
seperti iritasi mata dan tenggorokan, batuk, hidung berair, sakit kepala, pusing, kelelahan maupun rasa tidak nyaman saat bernapas. Namun, potensi gangguan kesehatan tersebut dipengaruhi oleh tingkat dan lamanya paparan serta kondisi kesehatan masing-masing individu,” tutur Arry.
Aktivitas Luar Ruangan yang Tidak Penting Bisa Dikurangi
Sebagai langkah antisipasi, Arry mengatakan, masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi kegiatan di luar ruangan yang tidak terlalu penting sebaiknya dikurangi ketika kondisi udara sedang kurang baik.
Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dapat membantu mengurangi paparan partikulat dari udara.
Selain mengurangi paparan, masyarakat juga perlu menjaga kondisi tubuh. Istirahat yang cukup, menjaga asupan cairan dan mempertahankan pola hidup sehat menjadi bagian dari upaya menjaga daya tahan tubuh.
Langkah ini terutama perlu diperhatikan oleh kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap perubahan kualitas udara.
Menurut Arry, berbagai langkah tersebut merupakan bentuk antisipasi yang wajar, bukan berarti masyarakat harus menghentikan seluruh aktivitas atau merasa sedang menghadapi kondisi darurat.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





