Pakar Unand Ungkap Penyebab Banjir Berulang di Padang, dari Lereng Curam hingga Sedimen Sungai

Pakar ilmu tanah Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M.Sc., menjelaskan bahwa banjir di Padang perlu dikaji melalui pendekatan daerah aliran sungai (DAS) secara menyeluruh. (Foto: Ist./SumbarFokus.com)

Selain kondisi lereng dan aliran air, material yang terbawa dari kawasan hulu juga menjadi perhatian. Erosi permukaan, longsoran lereng, pengikisan tebing sungai, serta endapan yang kembali terangkut arus dapat menyumbang material berupa pasir, kerikil, hingga bongkah batu ke aliran sungai.

Ketika energi aliran meningkat, material tersebut dapat terbawa menuju hilir. Namun, saat kecepatan air menurun, sebagian material berpotensi mengendap di dasar atau sepanjang alur sungai. Akumulasi sedimen dapat mengubah penampang sungai dan mengurangi kapasitas alirannya, sehingga meningkatkan potensi luapan ketika debit air kembali naik.

Setelah banjir Oktober 2026, pengamatan menemukan material kasar di sekitar alur sungai Lumin Park. Meski demikian, volume material, sumber sedimen, dan tingkat pendangkalan belum dapat dipastikan. Untuk mengetahui kondisi sebenarnya, diperlukan survei penampang sungai dan pengukuran sedimen secara langsung.

Dian juga menyoroti hubungan antara perubahan penggunaan lahan dan respons hidrologi DAS. Pembukaan hutan, pembangunan jalan pada lereng, serta aktivitas yang mengganggu kestabilan tanah berpotensi meningkatkan limpasan dan erosi. Kendati demikian, penyebab banjir tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perubahan tutupan lahan.

Bacaan Lainnya

Perbandingan citra Sentinel-2 sebelum dan sesudah banjir November 2025 di Batang Lubuk Minturun memperlihatkan indikasi bertambahnya area terbuka di sekitar alur sungai. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan erosi, endapan banjir, maupun aktivitas penggunaan lahan.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait