Ditambahkan, kedekatan kader dengan keluarga dan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun jejaring perlindungan dan memperkuat deteksi dini.
Dalam kegiatan tersebut, psikolog Andhika Anggawira memberikan penguatan mengenai bentuk, faktor risiko, tanda-tanda, dan dampak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Peserta juga dibekali pemahaman mengenai kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, serta bentuk kekerasan lainnya.
Selain mengenali indikasi kekerasan, kader diarahkan memahami langkah respons awal, mekanisme pelaporan, dan rujukan agar dugaan kasus dapat ditangani melalui layanan yang sesuai.
βKader memiliki posisi yang sangat strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan masyarakat. Dengan pengetahuan yang baik, kader dapat membantu mengenali tanda-tanda kekerasan lebih awal dan mendorong korban mendapatkan pertolongan melalui layanan yang tepat,β jelasnya.
Dia juga menekankan pentingnya komunikasi sehat dalam keluarga, pengasuhan positif, dan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang anak.
Melalui kegiatan tersebut, DPPKBP3A Pasaman Barat mendorong terbentuknya jejaring pencegahan kekerasan berbasis masyarakat yang melibatkan pemerintah, kader, keluarga, dan lingkungan sosial.
Kader diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan kemasyarakatan, tetapi juga berperan sebagai penggerak, edukator, pendeteksi dini, dan penghubung masyarakat dengan layanan perlindungan.
Penguatan kapasitas kader tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat dalam memperluas edukasi, memperkuat pencegahan, serta meningkatkan koordinasi dan sinergi lintas sektor untuk mewujudkan lingkungan yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan bagi perempuan dan anak. (018)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





