Dari Cabai hingga Harga Energi, TPID Sumbar Petakan Risiko Inflasi ke Depan

Tekanan inflasi di Sumatera Barat mulai mereda memasuki Triwulan III 2026. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) lengah. (Foto: Ist./SumbarFokus.com)

Sebelumnya, tekanan inflasi Sumbar meningkat pada Triwulan II 2026. Kenaikan tersebut terutama dipicu meningkatnya harga cabai merah akibat gangguan produksi yang dipengaruhi tingginya curah hujan di berbagai sentra hortikultura.

Pada periode yang sama, kelompok transportasi juga mencatat peningkatan tekanan inflasi seiring kenaikan harga energi global yang mendorong peningkatan harga BBM nonsubsidi, dan tarif angkutan udara.

Memasuki Triwulan III 2026, tekanan inflasi mulai menunjukkan penurunan. Inflasi tahunan Sumbar pada Agustus 2026 tercatat 3,76 persen (yoy), sedangkan inflasi bulanan berada pada 0,18 persen (mtm), dan inflasi tahun kalender sebesar 1,23 persen (ytd).

Perbaikan tersebut didukung membaiknya pasokan sejumlah komoditas pangan, khususnya bawang merah. Kondisi itu antara lain didukung peningkatan produktivitas melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Meski tekanan mulai menurun, TPID menilai pengendalian inflasi tetap perlu diakselerasi di seluruh kabupaten/kota. Targetnya, inflasi kembali berada dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Salah satu strategi yang ditegaskan dalam HLM yakni memperkuat KAD berbasis business-to-business (B2B). Kerja sama tersebut dapat dilakukan dengan memfasilitasi hubungan antara produsen di daerah surplus, dan off-taker di daerah defisit melalui business matching.

Dengan pola tersebut, pasokan dari daerah yang memiliki surplus komoditas dapat diarahkan ke wilayah yang mengalami kekurangan. Langkah ini diharapkan membantu menjaga ketersediaan barang, sekaligus mendukung stabilitas harga di Sumatera Barat.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait