Keputusan harus cepat, tetapi tetap terukur dan berbasis data. Pengalaman panjang inilah yang membuatnya tidak mudah terguncang ketika Sumatera Barat kembali menghadapi bencana beruntun pada 2024 dan 2025.
Namun sorotan besar tertuju pada Vasko. Datang dari ibu kota dengan latar belakang jejaring nasional yang kuat, awalnya ada keraguan publik. Apakah figur muda dari Jakarta ini siap menghadapi kompleksitas bencana Sumatera Barat? Apakah ia akan tergagap atau bahkan shock
menghadapi krisis besar di awal kepemimpinannya? Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Vasko tidak terlihat gamang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kebingungan.
Dalam berbagai dokumentasi media, ia tampak menikmati kehadirannya di tengah warga, tidur di tenda bersama pengungsi, membawa kendaraan sendiri tanpa protokoler berlebihan di tengah situasi bencana, hadir tanpa jarak. Bahkan dalam satu momen yang cukup simbolik, ketika para pemimpin lain lengkap dengan sepatu bot dan atribut resmi meninjau lokasi berlumpur, Vasko terlihat santai, nyeker, tanpa alas kaki turun langsung ke lumpur untuk mengecek fasilitas umum yang rusak.
Gestur itu bukan sekadar spontanitas, tapi sebuah pesan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus dibungkus formalitas. Bahwa dalam krisis, empati dan keberanian hadir lebih penting daripada simbol kekuasaan. Vasko tidak berdiri di belakang meja tapi berbicara langsung dengan warga, bercengkrama, menghibur, berusaha menjaga semangat para pengungsi. Di tengah krisis besar di awal masa jabatannya, ia justru terlihat menemukan jati dirinya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





