Waspadai Produk Ilegal Beredar di Sumbar, Ini Temuan BPOM

Kepala BBPOM di Padang, Abdul Rahim, menunjukkan temuan produk pangan ilegal, Kamis (21/12/2023). (Foto: YEYEN/SumbarFokus.com)

PADANG (SumbarFokus)

Sejumlah produk illegal dan tak layak edar dijumpai di Sumatera Barat. Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Padang mendapatkan temuan adanya produk Tanpa Izin Edar (TIE), atau illegal, di Kota Padang, Kabupaten Kepulauan Mentawai, dan Kabupaten Pasaman Barat. Padahal, ditegaskan oleh Kepala BBPOM Padang Abdul Rahim, Kamis (21/12/2023), saat jumpa pers dengan awak media di kantor BBPOM di Padang, Izin Edar membuktikan bahwa produk pangan terkait memang produk yang dikeluarkan oleh pelaku usaha, sesuai regulasi, yang memiliki jaminan keamanan, berupa nomor izin edar dari BPOM.

Bacaan Lainnya

Selain produk ilegal, dikatakan Abdul Rahim, pihaknya juga mendapatkan temuan produk rusak dan kedaluwarsa beredar di pasaran Sumbar. Disebutkan juga, BBPOM di Padang melakukan pengawasan rutin khusus pangan di Sumbar terhadap 13 kabupaten/kota. Sementara, Balai POM di Payakumbuh melakukan pengawasan terhadap empat kabupaten/kota, dan Loka POM di Dharmasraya melakukan pengawasan terhadap dua kabupaten/kota.

“BPOM menyelenggarakan pengawasan di sepanjang rantai pangan untuk mewujudkan keamanan, mutu dan gizi pangan dengan melibatkan pelaku usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan,” sebutnya.

Diuraikan, pada pengawasan rutin khusus menjelang Natal Tahun 2023 dan Tahun Baru 2024 sampai dengan 21 Desember 2023, BBPOM di Padang telah melakukan pemeriksaan pada total 135 sarana peredaran pangan olahan yang terdiri dari 101 sarana ritel, 8 gudang distributor, 1 gudang importir, dan 25 sarana ritel tradisional.

Pengawasan dilakukan oleh inspektur pangan yang kompeten terkait Cara Peredaran Pangan Olahan yang Baik. Hasil pemeriksaan sarana, ditemukan 22 sarana menjual produk Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) berupa produk pangan kedaluwarsa, pangan TIE, dan pangan rusak.

Dari seluruh sarana tersebut, BBPOM di Padang menemukan 79 item (618 pieces) produk TMK dengan nilai ekonomi sekitar Rp9.362.400, dengan rincian 53 item pangan kadaluarsa (345 pieces), 12 item TIE (222 pieces), dan 14 item pangan rusak (51 pieces).

Pada pengawasan tahun 2023, Sarana yang Memenuhi Ketentuan 113 sarana (83.71 persen) dan 22 sarana produk TMK ditemukan di sarana ritel (16.29 persen), dan sebagian kecil ditemukan di sarana tradisional.

“BPOM secara rutin melakukan pengawasan pangan olahan di sarana produksi dan peredaran sepanjang tahun. Khusus pada hari raya besar seperti Natal dan Tahun Baru, peningkatan frekuensi pengawasan pangan olahan di rantai distribusi pangan olahan dilakukan sejak 1 Desember 2023 hingga 4 Januari 2024,” ujar Abdul Rahim.

Bahan pangan untuk membuat kue, makanan ringan, minuman, cake, cokelat merupakan jenis-jenis pangan yang meningkat permintaannya sehingga menjadi perhatian dalam pengawasan BPOM.

Target pengawasan rutin khusus pangan tahun 2023 sendiri difokuskan pada pangan olahan terkemas kedaluwarsa, TIE, dan rusak di sarana peredaran, seperti importir, distributor dan ritel pangan, termasuk penjual parsel/hampers.

Dijelaskan, pengawasan dilakukan oleh inspektur pangan yang kompeten terkait Cara Peredaran Pangan Olahan yang Baik. Hasil pemeriksaan sarana, ditemukan 22 sarana menjual produk Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) berupa produk pangan kedaluwarsa, pangan TIE, dan pangan rusak.

“Keamanan pangan harus dijaga agar kesehatan masyarakat dapat terwujud,” tegas Abdul Rahim.

Negara-Negara temuan

Diungkapkan, temuan pangan TIE Impor terbanyak menjelang Natal Tahun 202 diperoleh negara Nigeria dan Malaysia. Produk temuan tersebut berupa permen, yaitu coklat batang (kemasan kotak). Sedangkan pangan yang rusak dan kedaluwarsa antara lain bumbu siap pakai , ikan dalam kaleng, dan minuman serbuk krimer kental manis. Selain dua negara tersebut, dijumpai juga produk dari Cina, India, Tailand, Amerika Serikat, dan Singapura.

“Peredaran produk seharusnya dapat di antisipasi tersebut dengan partisipasi masyarakat untuk tidak membelinya,” sebut Abdul Rahim.

BPOM telah menindaklanjuti seluruh hasil pengawasan tersebut dengan melakukan langkah langkah penanganan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran. Tindak lanjut ini termasuk melakukan pengamanan dan menginstruksikan retur/pengembalian produk kepada supplier kedaluwarsa, produk TIE, serta pemusnahan terhadap produk yang rusak.

Ditegaskan, BPOM berkomitmen untuk senantiasa mengawal keamanan pangan dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat, terutama menjelang Natal 2023.

“Pelaku usaha pangan juga kembali diimbau untuk terus mematuhi peraturan perundangundangan yang berlaku,” pungkas Abdul Rahim. (003)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait