“Pakai uang muka, kan?” tanya Zigo.
“Iya, Pak,” jawab pihak kontraktor.
“Kalau begitu apa komitmennya?” lanjutnya.
Selain itu, Zigo juga menanyakan jumlah alat berat yang bekerja di lapangan guna memastikan pengerjaan benar-benar berjalan maksimal.
“Excavator ada dua unit, Pak. Compactor tiga unit,” jawab rekanan.
Menurut Zigo, proyek tersebut tidak bisa dianggap ringan karena jalan nasional tersebut merupakan jalur utama distribusi logistik di Sumatera Barat.
“Ini jalan logistik, jalan lintas tengah. Bapak nggak bisa anggap ringan,” ujarnya.
Dia menegaskan, keterlambatan pengerjaan proyek pada akhirnya akan berdampak langsung kepada masyarakat dan pemerintah.
“Pemerintah saja yang disalahkan. Yang lalai itu bapak sebagai rekanan, kan,” tegasnya.
Peninjauan tersebut menjadi bagian dari fungsi pengawasan Komisi V DPR RI terhadap pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur nasional, khususnya jalan strategis yang menjadi akses utama masyarakat dan distribusi barang di wilayah Sumatera Barat. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






