Pembangunan infrastruktur tersebut tersebar di sejumlah wilayah yang memiliki lahan pertanian dengan tingkat kesulitan pasokan air.
Kawasan tersebut di antaranya Lubuk Basung, Tanjung Mutiara, Ampek Angkek, Kamang Magek, Baso, Tilatang Kamang, dan Canduang.
“Seluruh unit Irpom diproyeksikan mampu mengairi lahan pertanian dengan luas total 530 hektare, atau setara 10 hektare per unit,” ulasnya.
Sistem Irpom ini lanjut Heri, memanfaatkan sumber air dari dalam tanah. Untuk memperoleh sumber tersebut, dibangun sumur bor yang dilengkapi mesin pompa.
Air yang diambil dari bawah tanah kemudian dialirkan dan ditampung di dalam bak penampungan berkapasitas sekitar 50 meter kubik sebelum digunakan untuk mengairi lahan pertanian.
“Dengan kapasitas tersebut, air yang tertampung diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan lahan seluas 10 hektare,” katanya lagi.
Untuk menjaga keamanan peralatan, disiapkan bangunan berukuran 2×1 meter sebagai tempat menyimpan mesin pompa agar terlindung dari berbagai risiko, termasuk pencurian.
“Pemanfaatan air dari Irpom sendiri difokuskan untuk menunjang kebutuhan sejak musim tanam hingga usia tanaman satu setengah bulan, periode di mana ketersediaan air menjadi faktor penting bagi pertumbuhan tanaman,” tuturnya.
Dikatakan, kelompok tani juga turut berperan dalam pelaksanaan kegiatan melalui swadaya guna mendukung pengerjaan.
Hal ini dilakukan agar pembangunan maupun pemanfaatan Irpom dapat sesuai dengan kebutuhan lahan pertanian.
Saat ini, progres pembangunan di sejumlah kawasan masih bervariasi, dengan tingkat penyelesaian berada di kisaran 50 hingga 90 persen, tergantung kondisi dan tahapannya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





