Empat Tekanan Menohok Sumbar: Tumbuh, Tapi Semakin Tertinggal

Gilang Gardhiolla Gusvero. (Foto: Ist./SumbarFokus.com)

Fakta bahwa Sumbar berada di peringkat kedelapan dari sepuluh provinsi di Sumatera dalam pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan yang terjadi belum cukup kuat untuk mengejar daerah-daerah lain.

Dalam konteks persaingan antarwilayah, tumbuh positif saja tidak lagi cukup. Pertumbuhan harus mampu melampaui rata-rata agar ketertinggalan dapat diperkecil.

PDRB Per Kapita Menunjukkan Rendahnya Daya Hasil Ekonomi

Tekanan kedua terlihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita.

Pada 2024, PDRB per kapita Sumbar tercatat Rp57,05 juta. Angka ini menjadi yang terendah dibanding sejumlah provinsi pembanding di Sumatera.

Riau mencatat Rp165,35 juta per kapita. Jambi mencapai Rp86,72 juta. Sumatera Selatan sebesar Rp75,13 juta. Sementara Sumatera Utara berada pada kisaran Rp73 juta hingga Rp77 juta.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumbar belum menghasilkan tingkat pendapatan rata-rata yang kompetitif dibandingkan daerah lain.

Menariknya, Jambi yang memiliki total PDRB lebih kecil justru mampu mencatat PDRB per kapita sekitar 52 persen lebih tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa struktur ekonomi Sumbar masih bertumpu pada sektor-sektor dengan nilai tambah yang relatif terbatas dan belum memiliki pengungkit ekonomi yang mampu menghasilkan lonjakan pendapatan masyarakat secara signifikan.

Investasi Masih Menjadi Pekerjaan Rumah Besar

Jika pertumbuhan ekonomi adalah hasil, maka investasi merupakan mesin yang menentukan pertumbuhan masa depan.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait