Ketiga kawasan tersebut memiliki karakteristik, peluang, dan risiko yang berbeda. Karena itu, penerapan tata kelola dan manajemen risiko menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, keberlanjutan lingkungan, kepentingan masyarakat, serta reputasi destinasi.
Ekos menegaskan, manajemen risiko tidak semestinya dipandang sebagai penghambat keputusan bisnis. Sebaliknya, pemahaman terhadap risiko diperlukan agar setiap keputusan dapat diambil secara tepat dan terukur.
“Risk management bukan untuk menghambat keputusan bisnis. Risiko harus dipahami agar perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat, terukur, dan tetap menciptakan nilai,” ujarnya.
Pendekatan berbasis risiko tersebut juga diterapkan dalam berbagai aktivitas bisnis ITDC, termasuk penyelenggaraan event internasional seperti MotoGP Mandalika yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026.
Menurut ITDC, ajang internasional memberikan peluang untuk meningkatkan eksposur destinasi wisata Indonesia, sekaligus membutuhkan pengelolaan risiko, kepatuhan, dan tata kelola yang kuat.
Penguatan GRC juga didukung fungsi pengawasan Dewan Komisaris ITDC yang terdiri dari Komisaris Utama Irna Narulita, Komisaris Asnaedi dan Ari Sihasale, serta Komisaris Independen Faldo Maldini dan Ekos Albar.
Melalui fungsi tersebut, Dewan Komisaris memastikan keputusan strategis perusahaan tetap mempertimbangkan risiko utama, kualitas tata kelola, serta kepentingan jangka panjang perusahaan.
“Semakin besar peluang yang ingin dimanfaatkan perusahaan, semakin penting pula kualitas pengawasan terhadap risiko yang menyertainya,” kata Ekos.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





