Kepala BI Sumbar: Pendidikan Sustainable, Bisa Jadi Sektor Andalan untuk Pertumbuhan Ekonomi

Sektor pendidikan dinilai bisa menjadi satu andalan penyumbang pertumbuhan ekonomi di Sumbar. Terlihat pada gambar, satu suasana pendidikan yang aktif di Politeknik Negeri Padang. (Foto: YEYEN/SumbarFokus.com)

PADANG (SumbarFokus)

Sektor pendidikan dan kesehatan di Sumatera Barat (Sumbar) dinilai punya daya tahan yang baik dalam menyokong pertumbuhan perekonomian. Bahkan, sektor pendidikan bisa dijadikan sektor andalan untuk Sumbar, dan perlu digarap lebih serius lagi.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar Endang Kurnia Saputra, baru-baru ini.

Sustainable (di Sumbar) justru pendidikan dan kesehatan. Ini bisa jadi industri, untuk bisa dikelola dengan baik. Di Australia, contohnya, pendidikan dibuat industri, dijadikan ekosistem. Sektor pendidikan ini bisa dikaitkan ke akomodasi, dan lainnya. Tapi itu terkait ke masing-masing universitas. Andaikan di sini bisa, meniru seperti yang dilakukan di Australia tersebut, pendidikan akan jadi andalan baru untuk pertumbuhan ekonomi di Sumbar,” papar Endang.

Menurutnya, pasar pendidikan di Sumbar sudah terbentuk. Di kalangan perguruan tinggi, banyak mahasiswa dari luar Sumbar yang datang ke Sumbar, seperti dari Jambi atau provinsi tetangga lainnya. Tak hanya dari provinsi tetangga, dari provinsi seberang pulau Sumatera juga tak kalah yang datang, misalnya dari Kota Batam, dan lainnya.

“Ini bisa digarap lebih serius,” Endang memberi penekanan.

Sementara, dari pantauan SumbarFokus.com, ditemukan berbagai alasan kenapa Sumbar menjadi pilihan untuk menjalani pendidikan. Diungkapkan oleh Hafiz Alfandi (25), alumni Magister Universitas Andalas, yang melewati studi S1-nya di Universitas Negeri Padang, berasal dari Kota Batam, Kepulauan Riau, menyatakan, dirinya memilih Sumbar untuk tempat menimba ilmu karena pilihan jurusan perkuliahan yang dia inginkan ada di Sumbar.

Disampaikan pula oleh Reifan Rachman Yusuf (20), mahasiswa Politeknik Negeri Padang, di lingkungan kampusnya bisa dijumpai mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari luar Sumbar.

“Alasan mereka kenapa memilih Sumbar beragam. Ada yang karena Sumbar itu indah alamnya, ada yang karena budayanya, dan ada yang karena lingkungan kampus yang beragama,” sebut Reifan.

Senada, dikatakan oleh Yoka Ananta (21), mahasiswa Politeknik Negeri Padang asal Riau, ditanya SumbarFokus.com, menjawab bahwa kondisi alam Sumbar menarik hatinya dan membuat dia berkeinginan untuk mengenyam pendidikan di Ranah Minang.

“Sumbar bagus alamnya. Di kawasan Unand, termasuk PNP, suasananya segar dan sejuk,” sebutnya.

 

Pergeseran sektor andalan Sumbar

Dikemukakan oleh Endang, berdasarkan kondisi ril yang dijumpai, memang terjadi shifting sektor pendorong ekonomi bertumbuh di Sumbar, yaitu dari pertanian menjadi perdagangan. Hal ini terlepas dari sektor pendidikan, yang terlihat terjaga di Sumbar.

“Kalau ekonomi Sumbar mau resistanable, pertanian harus tetap tumbuh,” ujar Endang.

Itu dikatakan oleh Endang karena dirinya menilai kondisi pertanian dan industri pengolahan di Sumbar terus menurun sejak satu dekade belakangan. Kabar gembiranya, menurut Endang, adalah sektor perdagangan yang terus tumbuh di Sumbar.

“Bisa jadi ada shifting. Dari petani, jadi pedagang. Dari yang punya pabrik, jadi pedagang,” ujarnya.

Disampaikan, pihaknya tetap yakin, Pemerintah terkait akan mampu mencari solusi untuk menyeimbangkan kondisi yang terus bisa memicu laju pertumbuhan ekonomi di Sumbar.

 

Perekonomian alami perlambatan

Diakui, di triwulan III tahun ini, perekonomian Sumbar tumbuh melambat, yaitu 4,30 persen (yoy), dibandingkan dengan triwulan II yang sebesar 5,14 persen (yoy). Pertumbuhan ini lebih rendang dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di Sunatera secara keseluruhan, sebesar 4,50 persen (yoy), dan dari pertumbuhan di Nasional sebesar 4,94 persen (yoy).

Andil terbesar sumber pertumbuhan ekonomi di triwulan tiga, diungkapkan, berasal dari tiga Lapangan Usaha (LU). Ketiga tersebut antara lain LU perdagangan sebesar 1,02 persen, LU transportasi sebesar 0,73 persen, dan LU konstruksi sebesar 0,70 persen.

“Untuk pertumbuhan kelompok pengeluaran (yoy) pada triwulan III kemarin antara lain konsumsi rumah tangga sebesar 2,50 persen, konsumsi pemerintahan sebesar -5,74 persen, PMTB sebesar 9,35 persen, ekspor LN sebesar -32,45 persen, dan impor LN sebesar -40,30 persen,” urai Endang.

Sementara, untuk pertumbuhan LU (yoy), disebutkan, sektor konstruksi paling tinggi. Rinciannya antara lain sektor pertanian sebesar 1,50 persen, perdagangan sebesar 6,10 persen, transgud sebesar 7,12 persen, konstruksi sebesar 7,87 persen, dan pengolahan sebesar 3,21 persen. (003)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait