“Yang ini kan ada kolam. Nah, kita sulap, kita ubah menjadi sebuah amfiteater. Karena juga sudah tidak berfungsi lagi, kita jadikan amfiteater. Nanti digunakan untuk pertunjukan seni dan kegiatan-kegiatan berkebudayaan masyarakat,” ujarnya.
Konsep tersebut membuat revitalisasi Pabrik Indarung I tidak sekadar berbicara mengenai pemugaran bangunan. Kawasan bersejarah itu akan dihidupkan melalui aktivitas masyarakat sehingga keberadaannya tetap relevan dengan kebutuhan masa kini.
Agus mengatakan, setelah revitalisasi berjalan, kawasan tersebut direncanakan dapat dibuka secara luas bagi masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya melihat Pabrik Indarung I sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga dapat berinteraksi dan berkegiatan di dalamnya.
“Ini nanti akan dibuka secara luas untuk masyarakat. Kalau sudah kita buka secara luas sebagai ruang publik, sebagai tempat kreativitas berkebudayaan, tentu akses masyarakat luas dan kita memberi manfaat bekas pabrik ini,” katanya.
Menurut Agus, kawasan bersejarah tidak cukup hanya dipertahankan secara fisik. Pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan diperlukan agar nilai sejarahnya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Artinya pabrik yang sudah tidak berfungsi, kalau digunakan, direvitalisasi, diubah penggunaannya sebagai pusat aktivitas budaya,” ujarnya.
Rencana revitalisasi tersebut juga membuka peluang lebih jauh bagi Pabrik Indarung I untuk diperkenalkan sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai penting, termasuk dalam konteks menuju pengakuan internasional.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





