Selain itu, pengembangan PLTS diperkirakan mampu menurunkan emisi hingga sekitar 140 juta ton CO2 per tahun. Dari sisi fiskal, program tersebut juga berpotensi memberikan efisiensi subsidi sekitar Rp73,9 triliun setiap tahun.
Bahlil mengatakan pengembangan PLTS akan dilakukan melalui sejumlah skenario, mulai dari PLTS skala besar, PLTS terapung, PLTS atap, PLTS untuk kawasan industri, hingga pemanfaatan energi surya untuk kegiatan produktif.
Sementara itu, khusus di Bali, PLN bersama Pemerintah Provinsi Bali akan mengembangkan lima klaster PLTS dengan total kapasitas mencapai 1.000 MWp yang didukung Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 3.300 MWh.
Dari kapasitas tersebut, pengembangan PLTS di Klaster Gilimanuk ditargetkan mencapai 300 MWp.
Darmawan menilai pengembangan energi surya ke depan tidak hanya akan memperkuat bauran energi terbarukan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.
“Transformasi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi menjadi lebih bersih. Lebih dari itu, listrik merupakan fondasi untuk mempercepat pemerataan pembangunan, menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja, serta membantu mengentaskan kemiskinan,” katanya. (000/UID-Sumbar)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





