Namun, digitalisasi tersebut tidak diarahkan hanya untuk mempermudah pembayaran.
âDigitalisasi diarahkan tidak hanya untuk mempermudah pembayaran, tetapi juga memperkuat pemasaran, pencatatan transaksi, efisiensi usaha, serta akses UMKM terhadap pembiayaan dan pasar,â ujarnya.
SCF 2026 membawa sejumlah agenda yang berkaitan langsung dengan kebutuhan tersebut.
Salah satunya Creative Economy Talks bertema âAI Product Photoshoot for UMKM: Create Easier, Grow Fasterâ yang membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk kebutuhan foto produk dan promosi.
Ada pula Digital Talks mengenai digitalisasi dan pelindungan data UMKM yang mempertemukan isu pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan menjaga keamanan data dalam aktivitas usaha.
Bagi BI, kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi semakin penting karena Sumatera Barat memiliki lebih dari 662 ribu unit UMKM.
Potensi produk lokal juga sangat besar, mulai dari tenun, songket, sulaman, kriya, kuliner, kopi, teh hingga berbagai produk ekonomi kreatif lainnya.
Majid mengatakan kekuatan tersebut perlu ditransformasikan menjadi nilai ekonomi yang lebih besar.
âPotensi tenun, songket, sulaman, kriya, kuliner, kopi, teh, dan produk unggulan lainnya perlu terus ditransformasikan menjadi nilai tambah ekonomi, perluasan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,â katanya.
Pemanfaatan teknologi kemudian dipadukan dengan agenda perluasan pasar. SCF menghadirkan forum âDari Nagari ke Luar Negeri: Mendorong UMKM Nagari Go Exportâ, business matching ekspor serta berbagai workshop dan talkshow yang berkaitan dengan pengembangan usaha.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





