“Potensi tenun, songket, sulaman, kriya, kuliner, kopi, teh, dan produk unggulan lainnya perlu terus ditransformasikan menjadi nilai tambah ekonomi, perluasan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Dorongan tersebut juga diarahkan pada perluasan pasar. BI juga terus mendorong UMKM untuk naik kelas melalui penguatan kapasitas, korporatisasi, perluasan akses pembiayaan serta fasilitasi akses pasar di tingkat daerah, nasional hingga global.
Peluang tersebut sebelumnya terlihat dalam Karya Kreatif Indonesia 2026 yang berlangsung 20–23 Agustus 2026. Perwakilan UMKM Sumatera Barat dalam kegiatan tersebut mencatat penjualan lebih dari Rp1 miliar.
SCF 2026 kemudian membawa agenda perluasan pasar tersebut lebih dekat kepada pelaku usaha melalui forum “Dari Nagari ke Luar Negeri: Mendorong UMKM Nagari Go Export” dan business matching ekspor.
Rangkaian forum juga menghadirkan pembahasan mengenai pengelolaan keuangan, ekspor, ekonomi hijau, ekonomi dan keuangan syariah hingga pengembangan fesyen.
Menurut Majid, penguatan kapasitas UMKM menjadi semakin penting seiring perkembangan perekonomian Sumatera Barat.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Sumbar tumbuh 4,54 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang ekspor luar negeri yang tumbuh 13,01 persen dan pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 9,84 persen.
Sementara, inflasi Sumatera Barat pada Juli 2026 tercatat 4,12 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut, kata dia, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas, produktivitas, akses pasar dan daya saing UMKM secara berkelanjutan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





