Pemprov Sumbar menilai pengembangan Teluk Bayur penting karena pelabuhan tersebut menjadi salah satu pintu utama pergerakan komoditas Sumatera Barat menuju pasar nasional maupun internasional.
Dalam proposal yang disampaikan, data Pelindo mencatat Teluk Bayur memiliki dermaga peti kemas sepanjang 348 meter dan dermaga nonpeti kemas sepanjang 850,5 meter.
Kapasitas pelayanan pelabuhan mencapai 345.600 TEUs per tahun. Selain itu, Teluk Bayur memiliki kemampuan melayani curah cair hingga 4,63 juta ton dan curah kering 4,74 juta ton setiap tahun.
Aktivitas CPO juga menjadi bagian penting dari operasional pelabuhan. Sebanyak tujuh perusahaan memanfaatkan fasilitas tangki timbun di kawasan Teluk Bayur dengan total produksi lebih dari 3,15 juta ton pada 2025.
PT Padang Raya Cakrawala menjadi kontributor terbesar dengan produksi 1,16 juta ton atau sekitar 37 persen dari total produksi.
Muara Padang Disiapkan untuk Pengembangan Kawasan
Sementara di Pelabuhan Muara Padang, Pemprov Sumbar mengusulkan pembangunan Gedung Maritime Centre dan penyusunan kajian bisnis kawasan.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan kawasan Muara Padang agar memiliki fungsi ekonomi dan pelayanan pelabuhan yang lebih optimal.
Namun, pengembangan kedua kawasan pelabuhan tersebut masih menghadapi persoalan tata ruang.
Perda RTRW dan RDTR Kota Padang 2023-2043 masih menetapkan kawasan Teluk Bayur sebagai zona transportasi sehingga belum mengakomodasi pengembangan kegiatan industri.
Persoalan serupa juga terdapat di kawasan Muara Padang. Sebagian kawasan masih berstatus sebagai zona transportasi, kawasan perlindungan setempat dan cagar budaya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





