PURBALINGGA (SumbarFokus)
Pagi itu, anak-anak Desa Krangean kembali berjalan menembus jalan berlumpur menuju sekolah. Sepatu mereka basah, ujung celana penuh cipratan tanah, sementara genangan air masih tersisa di sepanjang jalan sempit desa usai hujan malam sebelumnya.
Bagi warga Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, lumpur bukan sekadar tanah basah. Ia menjadi simbol keterbatasan yang bertahun-tahun menghambat kehidupan masyarakat.
Saat musim hujan datang, akses desa berubah licin dan sulit dilalui. Kendaraan sering tersendat, bahkan ambulans kerap kesulitan masuk ke permukiman warga dalam kondisi darurat.
Sugino (54), warga RT 01/RW 05 Desa Krangean mengatakan, kondisi jalan selama ini menjadi persoalan besar bagi masyarakat.
βKalau hujan dulu kendaraan sering nggak bisa masuk. Kami kalau mau bawa hasil gula merah keluar desa juga susah sekali,β ujarnya.
Desa Krangean sendiri dikenal sebagai salah satu sentra gula merah tradisional di Kabupaten Purbalingga. Namun buruknya akses jalan membuat distribusi hasil produksi warga sering terkendala.
Tak hanya berdampak terhadap ekonomi, kondisi jalan juga sempat menghambat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis karena sulitnya kendaraan menjangkau lokasi sasaran.
Kini keadaan perlahan mulai berubah sejak program TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga hadir di Desa Krangean.
Program yang berlangsung sejak 22 April hingga 21 Mei 2026 itu menghadirkan pembangunan di berbagai sektor dengan melibatkan Satgas TMMD bersama masyarakat.
Suara molen pengaduk semen dan aktivitas gotong royong kini menjadi pemandangan sehari-hari di desa tersebut.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






